welcome to murowi.blogspot.com and try to looking at moerowi.blogspot.com : welcome to murowi.blogspot.com and try to looking at moerowi.blogspot.com : welcome to murowi.blogspot.com and try to looking at moerowi.blogspot.com : welcome to murowi.blogspot.com and try to looking at moerowi.blogspot.com

Rabu, 02 November 2011

Bahaya Su’udz Dzan Atau Prasangka Buruk

Abdullah Hadrami
Bahaya Su’u zhan
Zhan atau prasangka secara bahasa memiliki dua makna, yakin dan prasangka (dugaan). Zhan bermakna yakin seperti dalam firman Allah, artinya, “Yaitu orang-orang yang meyakini (يَظُنُّوْنَ), bahwa mereka akan menemui Rabb (Tuhan) mereka, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS.al-Baqarah: 46)
Zhan bermakna prasangka seperti firman-Nya, artinya, “Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tidak akan menolongnya (Muhammad) di Dunia dan Akhirat…”(QS. al-Hajj: 15)
Secara istilah, zhan adalah mengetahui sesuatu, disertai kemungkinan yang kecil kalau pengetahuan dia itu salah. (Syaikh al-Utsaimin)
Zhan menurut para ulama ada tiga:
Zhan yang diharamkan, yaitu su’u zhan (prasangka buruk). Su’u zhan yaitu meyakini sisi buruk seseorang dan lebih menguatkannya dibanding sisi baiknya, dalam hal-hal yang mengandung dua kemungkinan (baik ataupun buruk).
Zhan yang diperbolehkan, yaitu seseorang yang ragu-ragu dalam jumlah raka’at shalat, maka dia boleh mengikuti zhannya (dugaannya) atau mengikuti keyakinannya. Demikian juga prasangka yang boleh adalah yang muncul di hati seorang muslim terhadap saudaranya disebabkan sesuatu yang menimbulkan kecurigaan/keraguan yang ia lakukan.
Zhan yang dianjurkan atau diperintahkan, seperti menyangka benar persaksian saksi yang adil, mengikuti zhan yang berlandaskan pada dalil dalam masalah fikih, berbaik sangka kepada Allah, dan kepada kaum muslimin yang adil dan lain-lain.
Bahaya Su’u zhan
Imam Ibnu Hajar al-Haitami memasukkan su’u zhan terhadap sesama muslim ke dalam golongan dosa besar yang tersembunyi (batin). Beliau berkata, “Dan dosa besar ini adalah salah satu dosa besar yang wajib diketahui oleh setiap mukallaf (hamba) supaya dia berusaha menghilangkannya. Karena barangsiapa yang hatinya ada sebagian penyakit ini, tidak akan bertemu Allah –wal‘iyadzu Billah- dengan qalbun salim (hati yang selamat).”(az-Zawajir ‘an Iqtiraafil Kabair)
Su’u zhan meliputi su’u zhan terhadap Allah, dan terhadap kaum muslimin yang adil. Su’u zhan terhadap Allah hukumnya haram. Para ulama menyebutkan bahwa su’u zhan bertentangan dengan tauhid dan kesempurnaannya.
Syaikh Shalih al-Fauzan berkata dalam I’anatul Mustafid, “Sesungguhnya su’u zhan terhadap Allah bertolak belakang dengan tauhid atau bertentangan dengan kesempurnaannya. Ia bertolak belakang dengan pokok tauhid jika ia bertambah, banyak dan terus-menerus ada pada seseorang. Atau, ia bertolak belakang dengan kesempurnaan tauhid jika ia adalah sesuatu yang datang tiba-tiba atau sesuatu yang sedikit atau hanya terbesit dalam hati saja dan ia belum mengucapkan dengan lisannya. Adapun jika dia sudah mengucapkan dengan lisannya, maka menjadi sesuatu yang bertolak belakang dengan tauhid.”
Di antara bentuk su’u zhan kepada Allah adalah putus asa dari rahmat Allah, tidak menerima takdir, menganggap Allah tidak adil, doanya tidak akan dikabulkan, dosanya tidak diampuni, kaum Muslimin akan tetap dalam keadaan kalah dan kemenangan akan selama-lamanya berada di tangan orang-orang kafir dan lain-lain.
Ibnu ‘Abbas berkata, “Sikap penakut, kikir, tamak dan seluruh watak buruk, kesemuanya adalah termasuk prasangka buruk terhadap Allah.”(Adabusy Syar’iyyah: 47)
Dan di antara bentuk su’u zhan terhadap kaum muslimin yang adil adalah menuduh mereka dengan perbuatan buruk hanya dengan berdasarkan prasangka belaka, bukan berdasarkan pengetahuan dan bukti yang jelas.
Seorang yang adil adalah yang taat kepada Allah, mengikuti perintah-perintah-Nya, dan menghindari larangan-larangan-Nya, dan tidak bermaksiat kepada Allah, tidak terjatuh ke dalam perbuatan dosa besar dan sebagian dosa kecil.
Dan bukanlah yang dimaksud dengan adil, orang yang sama sekali terlepas dari seluruh dosa, tetapi seseorang yang secara umum adalah orang yang berpegang teguh dengan agama, bersungguh-sungguh dalam ketaatan. Sa’id bin al-Musayyib berkata, “Tidak ada seorang terhormat pun, atau pun orang berilmu dan tidak juga penguasa melainkan dia pasti memiliki aib. Namun sebagian manusia ada aibnya yang tidak harus disebutkan, barangsiapa kelebihannya lebih banyak dari kekurangannya, maka kekurangannya itu dianggap sebagai kelebihan.” (al-Kifayah: 79, dan al-Bidayah wan Nihayah: 9/100)
Imam al-Ghazali berkata dalam Ihya Ulumuddin (3/150), “Ketahuilah bahwa prasangka buruk (su’u zhan) adalah haram seperti halnya ucapan yang buruk. Sebagaimana haram atasmu membicarakan keburukan seseorang kepada orang lain, maka tidak boleh juga membicarakannya kepada dirimu (hatimu) sendiri dan engkau berprasangka buruk terhadap saudaramu. Dan yang aku maksudkan adalah keyakinan hati terhadap orang lain dengan keburukan. Adapun apa yang terlintas dan bisikan hati maka hal itu dimaafkan, bahkan keraguan juga. Akan tetapi yang dilarang adalah menyangka, dan prasangka adalah kata lain dari sesuatu yang dijadikan sandaran yang hati condong kepadanya.
Allah berfirman, artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan prasangka, (karena) sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.”(QS. al-Hujurat:12)
Dan sebab pengharamannya adalah bahwa rahasia hati tidak ada yang mengetahui kecuali Dzat Yang Maha Tahu tentang hal yang ghaib. Tidak ada hak bagimu untuk meyakini keburukan orang lain, kecuali jika nampak jelas dengan mata, yang tidak menerima takwil (tafsiran), maka saat itu tidak ada hal lain bagimu selain meyakini apa yang engkau ketahui dan engkau lihat. Dan apa-apa yang tidak engkau lihat dengan mata, dan tidak engkau dengar dengan telinga, tetapi muncul dalam benakmu, maka sesungguhnya setanlah yang telah melontarkan prasangka itu kepada- mu, engkau harus mendustakannya, karena sesunggguhnya setan adalah makhluk yang paling fasik. Allah telah berfirman, artinya, “Wahai orang yang beriman, jika orang fasik membawa berita kepadamu maka periksalah.” (QS. al-Hujurat: 6)
Su’u zhan terhadap sesama muslim, juga termasuk salah satu dosa besar. Hal itu dikarenakan ia akan dipengaruhi oleh setan untuk meremehkan seseorang, tidak menunaikan hak-haknya, kurang memuliakannya, dan mengumbar lisan, melecehkan kehormatannya. Dan semua ini adalah hal-hal yang membinasakan.
Dan setiap orang yang berprasangka buruk kepada orang lain, menunjukkan aib orang lain, maka ketahuilah bahwa hal itu disebabkan buruknya batin dan watak. Karena seseorang yang beriman mencari udzur-udzur (alasan-alasan positif kenapa orang lain itu melakukan perbuatan tersebut) dan karena selamatnya hati mereka, sedangkan orang munafik, mencari-cari aib seseorang karena buruknya batin mereka.
Ibnu Qudamah al-Maqdisi berkata, “Tidak boleh engkau berprasangka buruk kepada saudaramu sesama muslim, kecuali jika terlihat sesuatu yang tidak mungkin lagi untuk ditakwil (dicari-cari alasannya). Jika seseorang yang adil mengabarkan kepadamu tentang hal itu, lalu hatimu condong untuk membenarkan maka engkau tidak bersalah. Karena jika engkau mendustakan, berarti engkau telah berburuk sangka terhadap orang yang mengabarkannya. Tidak pantas engkau berbaik sangka terhadap seseorang dan berburuk sangka terhadap orang lain, akan tetapi hendaknya engkau mencari tahu, apakah di antara keduanya ada permusuhan atau kedengkian. ”(Mukhtashor Minhajil Qashidin: 172)
Obat Buruk Sangka
Untuk mengobatinya Ibnu Qudamah al-Maqdisi berkata, “Setiap kali terbesit dalam hatimu sesuatu yang buruk terhadap sesama muslim, maka hendaknya engkau menambah perhatianmu kepadanya, dan doakan dia dengan kebaikan. Sungguh hal itu mengurangi pengaruh setan dan mengusirnya darimu. Dan jika terbukti kekeliruan (ketergelinciran) seorang muslim, maka nasihatilah dia dengan rahasia (empat mata). Dan ketahuilah sesungguhnya salah satu buah dari buruk sangka adalah sikap memata-matai, yang dapat merusak tirai penutup kaum muslimin.” [Disadur dari berbagai sumber oleh Sujono/alsofwah]

arti hidup

Dalam berbagai literatur, video, audio, atau pun dalam seminar, mungkin Anda pernah mendapatkan materi tentang arti hidup. Para motivator atau ahli pengembangan diri mengatakan bahwa memahaminya adalah langkah penting dalam menggapai sukses. Saya setuju, bahkan bukan hanya sukses dunia, tetapi sukses duni akhirat jika kita memahaminya dengan benar.
Ada satu hal penting yang harus kita perhatikan disini. Saat si motivator atau trainer memandu Anda menemukan arti hidup. Betulkah akan dipandu ke arti hidup yang sesungguhnya? Jangan main-main dengan ini, sebab hidup kita di dunia akan menentukan hidup kita di akhirat.

Adakah Nilai-nilai Universal?

Saya selalu bertanya dengan apa yang disebut dengan nilai-nilai universal. Katanya, nilai-nilai yang diterima oleh semua agama. Apa yang salah? Mungkin, seseorang bisa mengumpulkan nilai-nilai yang diterima oleh semua agama. Artinya dia mengeliminir nilai-nilai yang hanya diterima oleh suatu agama, termasuk agama Islam. Jadi, saat kita hanya mengambil nilai-nilai universal, maka kita tidak akan mendapatkan nilai-nilai Islam secara utuh atau secara integral.
Nilai-nilai yang kita anut, akan menentukan hidup kita. Saat nilai yang kita anut tidak utuh, maka hidup kita pun menjadi tidak utuh. Hal ini, jika kita hanya mengandalkan nilai-nilai yang diajarkan oleh para trainer atau motivator yang katanya memberikan nilai-nilai universal. Saya tidak melarang Anda belajar kepada mereka, tetapi jangan cukup sampai disana. Kita harus mau melihat cara hidup sesuai dengan panduan kita sebagai Muslim.

Arti Hidup Menurut Islam

Agar kita tidak memahami arti hidup secara dangkal, kita harus kembali memahaminya dari sumber atau rujukan yang benar, yaitu Al Quran dan Hadits shahih. Tentu saja, jika kita menggalinya lebih dalam menurut Al Quran dan Hadits akan menjadi pembahasan yang panjang. Yang akan saya tekan disini ialah, kita jangan menyerahkan pemahaman dari sumber yang tidak jelas tidak pasti. Pemahaman yang salah bisa mengubah kehidupan kita, bahkan kehidupan kita nanti di akhirat.
Pada intinya, arti hidup dalam Islam ialah ibadah. Keberadaan kita dunia ini tiada lain hanyalah untuk beribadah kepada Allah. Makna ibadah yang dimaksud tentu saja pengertian ibadah yang benar, bukan berarti hanya shalat, puasa, zakat, dan haji saja, tetapi ibadah dalam setiap aspek kehidupan kita.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS Adz Dzaariyaat:56)
Ibadah… inilah arti hidup sesungguhnya.

Renungan

Apakah Membaca Renungan Bermanfaat?
Tergantung renungan apa yang Anda baca.
“Tapi, kalau hanya merenung saja percuma?”
Masalahnya, saya tidak menyebutkan merenung SAJA. Tidak pernah ada kata “saja” atau “hanya”. Berpikirlah cerdas, jangan sampai dengan pikiran selintas kita menghilangkan atau melewatkan manfaat merenung yang luar biasa.
Manfaat membaca renungan itu sangat besar. Untuk keberhasilan Anda dalam bisnis, dalam karir, bahkan untuk akhirat pun merenung sangat bermanfaat.
Apa Itu Renungan?
Renungan pemikiran mendalam terhadap cerita, analogi, anekdot, atau peristiwa untuk mendapatkan hikmah tertentu. Jadi merenung berbeda dengan melamun. Ada hasil yang kita dapatkan dari renungan, yaitu berupa hikmah. Dan hikmah itu selalu baik.
Apa istimewanya hikmah yang kita dapatkan dari renungan? Kuncinya adalah hikmah yang kita dapatkan hasil pemikiran mendalam dari sebuah cerita, analogi, anekdot, atau peristiwa akan langsung masuk ke dalam qalbu kita. Proses mendapatkan hikmah dari renungan adalah sebuah momen AHA atau pencerahan yang tidak akan mudah dilupakan. Inilah yang menjadikan hikmah dari hasil renungan akan awet menempel pada qalbu kita.
Renungan Ada Di Al Quran
Jika kita perhatikan, dalam al Quran banyak sekali ayat-ayat bahan renungan. Kisah dan peristiwa masa lalu mendominasi Al Quran yang pasti syarat dengan hikmah nilai-nilai luhur.
Allah memerintahkan kita untuk merenungi (tadzabur) alam agar kita bisa menemukan tanda-tanda kebesar Allah,
Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya), (QS An Nahl:12)
Banyak perumpaan (analogi) dalam Al Quran yang akan membawa kita menemukan banyak hikmah yang tida ternilai harganya.
Di sekitar kita pun, banyak yang bisa kita renungi dan kita dapatkan hikmahnya. Atau kita juga bisa mendapatkan hikmah dari renungan-renungan yang sudah dilakukan oleh orang lain.
Berikut adalah renungan-renungan yang bisa Anda baca untuk menambah pembendaharaan hikmah baik untuk sukses dunia dan akhirat.

Potensi Diri

Apa Itu Pengembangan Potensi Diri?

Saya menulis artikel pengembangan potensi diri, sebab banyak pertanyaan yang masuk kepada saya tentang cara mengembangkan potensi diri. Katanya, manusia memiliki potensi yang luar biasa dahsyat, namun tidak semua orang bisa merasakan dan mampu memanfaatkan semua potensi diri yang dimilikinya. Saat ada orang yang bertanya kenapa, maka saya menjawab diperlukan sebuah proses untuk menggali dan mengoptimalkan potensi diri yang kita miliki, yaitu kita sebut dengan pengembangan potensi diri.

Urgensi Pengembangan Potensi Diri

Pertama, sebagai tanda syukur kepada Allah yang telah memberikan potensi yang sangat besar kepada manusia. Allah Subhaanahu wa ta’ala sudah memberikan potensi yang sangat besar kepada kita, sungguh tidak berterima kasih jika kita mengabaikannya dan justru kita malah mengeluh karena banyak kekurangan. Padahal potensi diri kita sangat dahsyat namun masih saja terpendam tidak pernah kita gunakan.
Maka, pengembangan potensi diri ini mudah-mudahan menjadi salah satu bentuk syukur kita atas nikmat yang sangat besar ini. Dengan demikian kita pun akan ditambah nikmat oleh Allah Subhaanahu wa ta’ala, sebabnya memang janji-Nya akan menambah nikmat kepada hamba yang bersyukur. Sebaliknya jika tidak melakukan pengembangan potensi diri, khawatir menjadi hamba yang kufur atau mengabaikan nikmat yang telah diberikan kepada kita.
Kedua, dengan pengembangan potensi diri, kita akan menggali potensi diri kita sehingga bisa digunakan untuk kepentingan dan kemajuan diri kita. Jika saya melihat orang lain, mereka mampu melakukan hal yang luar biasa, bukan saja untuk dirinya sendiri tetapi memberikan manfaat yang besar bagi banyak orang.
Mudah-mudahan dengan kesadaran akan pentingnya pengembangan potensi diri, bukan hanya kebutuhan atau kebahagiaan diri sendiri saja yang terpenuhi, tetapi juga kita bisa berbagi kepada sesama khususnya kepada sesama umat Islam yang membutuhkan.

Bagaimana Caranya?

Langkah Pertama Pengembangan Potensi Diri

Pertanyaan yang sering kali ditanyakan ialah bagaimana cara mengetahui potensi diri saya? Ada dua jawaban yang bisa diberikan oleh para ahli pengembangan diri. Jawaban pertama, Anda harus mencarinya. Jawaban kedua, apa pun yang Anda inginkan atau sukai, di situlah potensi diri Anda.
Mana yang benar? Menurut saya, keduanya bisa dilakukan. Saat Anda mencari potensi diri Anda, biasanya akan jatuh kepada hal yang memang Anda sukai. Dan apa pun yang Anda sukai, maka Anda akan melakukannya dengan baik sehingga seolah itulah potensi diri Anda.
Lalu apakah potensi diri saya sebenarnya? Apakah pasti apa yang kita sukai itu adalah potensi diri kita? Saya tidak tahu jawabannya. Dulu, saya tidak tahu, apakah saya sudah ditakdirkan menjadi penulis? Saat saya kuliah, saya memilih jurusan engineering yang jauh dari dunia kepenulisan. Namun, perjalanan hidup saya membawa ke dunia tulis menulis karena sejak kecil saya memang suka menulis.
Jadi, jangan habiskan waktu dengan mempertanyakan apa bakat spesifik Anda. Anda bisa melanjutkan apa yang Anda lakukan saat ini jika memang menyukainya. Atau Anda bisa mencoba berbagai hal sampai Anda menemukan apa yang pas dengan diri Anda.
Yang dimaksud dengan potensi diri bukanlah bakat spesifik Anda, tetapi adalah kekuatan atau kemampuan yang sebenarnya ada dalam diri Anda saat ini yang sedang menunggu untuk dimanfaatkan. Kekuatan ini bisa dimanfaatkan untuk bidang apa pun yang ingin Anda lakukan.
Jika Anda yakin, bahwa Anda memiliki bakat tertentu, silahkan Anda gunakan potensi diri Anda untuk melakukan bakat Anda tersebut. Jika bakat Anda sebagai seorang guru, maka gunakan potensi diri sehingga Anda menjadi guru yang hebat. Sekali lagi, Anda tidak perlu repot memikirkan apa bakat spesifik Anda, tetapi yang perlu lakukan saat ini ialah mencoba dan mencarinya.
Anda bisa memulai dengan apa yang Anda lakukan saat ini. Atau Anda bisa mencoba bidang baru, yang sebenarnya Anda sukai. Silahkan. Intinya tentukan bidang apa yang ingin Anda coba saat ini.

Bukalah Potensi Diri Anda

Di dalam diri Anda itu ada potensi yang dahsyat, tetapi mungkin masih tertutup atau baru terbuka sebagian kecil. Maka bukalah penutup potensi diri Anda lebih lebar lagi. Pengembangan potensi diri tidak akan berjalan jika potensi diri Anda masih tertutup rapat. Cara membuka tutup tersebut adalah dengan meningkatkan rasa percaya diri Anda. Orang yang percaya diri ibarat orang yang sudah mampu membuka pintu potensi yang ada dalam dirinya.
Ya, ini tentang pikiran atau persepsi. Saat seseorang percaya diri, artinya dia menyadari atau melihat bahwa potensi dirinya sangat besar. Anda tidak akan pernah bisa mengembangkan sesuatu yang belum Anda lihat. Percaya diri sangat penting dalam pengembangan potensi diri, boleh dikatakan sebagai fundamentalnya.
Agar Anda dapat mengeluarkan potensi Anda secara optimum dibutuhkan keberanian dan rasa percaya diri yang tinggi. – Brian Tracy
Produk: Jika Anda ingin meningkatkan kepercayaan diri Anda, silahkan miliki video The Confidence Secret.

Paculah Potensi Diri Anda

Seringkali, orang mampu melakukan sesuatu yang hebat saat kepepet. Artinya, saat kepepet, dia mampu menggunakan segenap potensinya. Pertanyaanya, apakah Anda harus menunggu kepepet? Saya tidak suka kepepet dan memang tidak hanya kepepet yang mampu memacu potensi diri Anda. Artinya ada cara lain agar Anda bisa memacu potensi diri Anda tanpa kepepet.
Apa itu? Anda bisa memacu potensi diri Anda dengan memiliki mental juara. Dengan memiliki mental juara, Anda ingin selalu menjadi yang terbaik, yang artinya Anda akan memacu potensi diri Anda. Peran mental juara dalam pengembangan potensi diri adalah untuk menggali potensi Anda seoptimal mungkin.
Ikuti langkah-langkah ini, insya Allah pengembangan potensi diri Anda akan sukses.

Cari Blog Ini