welcome to murowi.blogspot.com and try to looking at moerowi.blogspot.com : welcome to murowi.blogspot.com and try to looking at moerowi.blogspot.com : welcome to murowi.blogspot.com and try to looking at moerowi.blogspot.com : welcome to murowi.blogspot.com and try to looking at moerowi.blogspot.com

Jumat, 24 Februari 2012

Arti sebuah Waktu


Alkisah ada seorang wanita yang hidup di sebuah desa terpencil, dia ingin pergi kerja ke kota agar dia bisa mengoprasi wajahnya. Kemudian dia mengutarakan keinginannya untuk kerja di kota kepada kedua orang tuanya, tapi keinginannya tersebut di tolak oleh kedua orang tuanya. Mendengar kata kedua orang tuanya yang menolak keinginannya dia pun menangis, tapi tak berapa lama kemudian ibunya datang menghampiri dia. Dan tiba-tiba ibunya bilang “Kamu boleh pergi ke kota nak”.
Mendengar perkataan ibunya dia pun tersenyum. Dan pagi harinya dia bersiap-siap untuk pergi ke kota. Di tengah perjalanan yang lama dan melelahkan dia istirahat di sebuah rumah, dan dia pun membayangkan, ” andai ku bisa membangun rumah mewah dan dapat mengoprasi wajah ku yang biasa menjadi luar biasa ini.” Tiba-tiba di tengah-tengah lamunannya datang seorang nenek tua menghampirinya, dan bertanya “kenapa nak kamu tersenyum sendiri?”
“Saya sedang membayangkan andaikan saja ku bisa sukses di kota dan dapat mengoprasi wajahku ini”, kata dia. Dan nenek itu mengeluarkan jam kecil dari kantongnya, kemudian nenek itu berkata “Kamu tinggal putar jam itu sesuai dengan putaran jarum jam, bila kamu ingin segera meraih cita-citamu”.
“Baik nek”, kata wanita tadi.
Kemudian tak berapa lama dia memutar jam tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan nenek tadi. Dan tiba-tiba dia bisa bekerja di sebuah perusahaan ternama di Jakarta. Tapi dia tak puas dengan lamanya waktu yang di perlukan agar bisa mengoprasi wajahnya.
Kemudian dia kembali memutar jam tersebut, dan wajahnya pun menjadi cantik. Lagi-lagi dia kurang puas dengan wajahnya, dan kembali dia memutar jam kecil pemberian nenek-nenek yang pernah dia temui sekali lagi. Tapi setelah memutar jamnya dia mendapati wajahnya yang semula cantik jelita menjadi tua dan keriput. Dan dia menyesal dengan keadaan dia sekarang. Kemudian dia kembali menemui nenek-nenek yang memberi dia jam di tempat di mana dia bertemu. Tapi dia tak melihat nenek tersebut karena nenek itu telah lama meninggal. Dia pun hanya bisa menyesal dan menangisi nasibnya.
Teman-teman ku apa pesan yang dapat kita ambil dari kejadian wanita tadi?
  1. Jadilah diri sendiri karena hanya dengan menjadi diri sendiri kita akan menjadi pribadi yang hidup dengan penuh rasa bahagia, damai, dan mulia.
  2. Raihlah cita-cita dengan penuh pengorbanan, kegigihan, dan kedisiplinan waktu untuk belajar.
  3. Kesuksesan bukan datang dari nasib dan keberuntungan, tapi datang dari kerja keras, ketidak putus asaan dan keyakinan.

Jumat, 16 Desember 2011

KELALAIAN MEREKA YANG IMANNYA TIDAK SUNGGUH-SUNGGUH

Pada awal tadi telah dinyatakan bahwa iman dari setiap orang yang berkata, "Aku beriman" tidaklah sama. Dalam bagian ini akan dibahas mengenai kelalaian dari orang-orang yang tidak beriman dengan benar. Kurangnya komitmen yang sejati adalah suatu hal yang menyebabkan lemahnya iman. Sebelum melanjutkan topik ini, alasan-alasan mengenai adanya perbedaan ini dapat dijelaskan dengan melihat bagaimana al-Qur'an mengidentifikasi orang-orang semacam ini, pandangan mereka mengenai agama, dan tujuan hidup mereka.
Mereka yang Imannya Tidak Sungguh-sungguh
Di dalam al-Qur'an orang-orang semacam ini juga disebut sebagai "mereka yang di dalam hatinya berpenyakit", "munafik", "mereka yang berbalik ke belakang" atau "mereka yang tinggal di belakang". Dapat dicermati bahwa mereka secara utuh bukanlah termasuk golongan orang-orang beriman maupun orang-orang jahiliah, sebagaimana dinyatakan di dalam ayat-ayat berikut ini:
"Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka." (Q.s. al-Mujadalah: 14).
"Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir)." (Q.s. an-Nisa': 143).
Meskipun demikian, perlu diperhatikan bahwa orang-orang semacam ini umumnya tinggal di tengah-tengah kaum muslimin. Penampilan, gaya hidup, dan sebagian dari perilaku mereka menyerupai orang-orang beriman. Namun, sesungguhnya, orang-orang ini tidaklah benar-benar seperti mereka karena karakteristik yang paling istimewa dari orang-orang beriman adalah keikhlasan mereka dalam beribadah kepada Allah, sementara orang-orang ini tidak memiliki keimanan yang kuat di dalam hati mereka. Sekalipun mereka menyatakan keimanan, mereka bukanlah orang-orang beriman yang sesungguhnya. Mengenai hal ini Allah berfirman sebagai berikut:
"Di antara manusia ada yang mengatakan: 'Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar." (Q.s. al-Baqarah: 8-9).
Apa yang mereka nyatakan sangat berbeda dengan apa yang disembunyikan di dalam hati mereka, ini dikarenakan "penyakit" yang ada di dalam hati mereka. Fakta ini juga dinyatakan di dalam al-Qur'an:
"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta." (Q.s. al-Baqarah: 10).
Di sini maksudnya bukanlah penyakit secara fisik, namun yang sifatnya secara ruhani. Di dalam hati orang yang ada penyakitnya seperti ini maka ia tidak dapat memahami agama secara benar dan mengamalkannya di dalam kehidupan. Sekalipun ia menyaksikan tanda-tanda keberadaan Allah secara terang benderang, ia tidak dapat menundukkan hatinya kepada-Nya, dan tidak dapat mencermati batasan-batasan-Nya. Ia tidak mampu hidup dengan agama Allah secara lengkap karena meskipun nuraninya telah membimbingnya kepada kebenaran, dirinya terlalu lemah untuk mengamalkan apa yang dinyatakan oleh lidahnya. Dibandingkan dengan kenikmatan-kenikmatan yang ada di surga, ia menganggap bahwa keuntungan-keuntungan duniawi ini lebih mudah diperoleh. Dengan demikian, maka ia pun begitu terikat dengan dunia ini dan tidak dapat menghargai nilai akhirat dengan selayaknya.
Keberadaan Mereka di Tengah-tengah Orang-orang Beriman
Tentu saja merupakan suatu hal yang menarik untuk diperhatikan, bahwa mereka yang di dalam hatinya ada penyakit lebih suka tinggal bersama-sama dengan orang-orang beriman, meskipun mereka tidak memiliki cita-cita yang sama. Salah satu alasan kenapa mereka lebih senang demikian adalah karena orang-orang semacam ini ingin mendapatkan untung dari agama dan kedamaian serta keamanan lingkungan dari orang-orang beriman. Mereka merasa lebih nyaman berada di tengah-tengah orang-orang beriman yang memperlihatkan akhlak mulia, dan lebih senang tinggal di tengah-tengah masyarakat seperti ini yang tidak dapat dijumpainya pada masyarakat jahiliah. Sementara keimanan di hati mereka sedikit, mereka tidaklah kafir seluruhnya, meskipun demikian mereka tidak dapat berintegrasi seutuhnya ke dalam masyarakat jahiliah ataupun ke dalam masyarakat Islam. Keraguan di dalam hati mereka menimbulkan dilema ini. Mereka mendapati bahwa kehidupan di dunia ini lebih menarik namun mereka juga ingin mendapatkan karunia-karunia yang dijanjikan Allah kepada orang-orang beriman di dunia ini dan di akhirat nanti. Meskipun mereka tidak memiliki keimanan yang sungguh-sungguh, punya pikiran-pikiran semacam, "Apakah ini benar?" dan "Bagaimana kalau janji-janji itu benar-benar nyata?" menyebabkan mereka berharap bahwa selain mendapatkan kesenangan-kesenangan duniawi, mereka juga dapat memetik keuntungan dari rahmat-rahmat dan karunia-karunia yang dicapai oleh orang-orang beriman.
Mereka mengharapkan agar orang-orang beriman dengan tulus akan melaksanakan tugas-tugas yang diperintahkan oleh agama, sementara mereka sendiri dapat mengambil keuntungan duniawi darinya. Namun demikian, bila ada kesulitan dan masalah mereka tidak mau bergabung bersama-sama dengan orang-orang beriman. Di dalam al-Qur'an perilaku orang-orang semacam itu pada masa Nabi Muhammad saw. digambarkan sebagai berikut:
"Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata: 'Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka. Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia: 'Andaikan, kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula)'." (Q.s. an-Nisa': 72-3).
"(yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: 'Bukankah kami (turut berperang) bersama kamu?' Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: 'Bukankah kami turut memenangkanmu dan membela kamu dari orang-orang mukmin?' Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari Kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman." (Q.s. an-Nisa': 141).
Orang-orang ini ingin memetik keuntungan dari manfaat yang diperoleh oleh orang-orang beriman, maka kadang kala mereka berupaya menarik perhatian dan meyakinkan orang-orang beriman mengenai komitmen mereka atas agama. Kendati demikian, karena orang-orang beriman telah menyaksikan sendiri keacuhan dan keloyoan yang telah tampak secara terang-terangan, maka mereka tidak berhasil untuk mempengaruhinya.
Orang-orang munafik memiliki pikiran-pikiran rusak, sehingga mereka berupaya untuk melakukan tipu daya sekalipun diantara mereka sendiri, dan berpikir bahwa mereka dapat ikut menikmati ganjaran-ganjaran yang diterima oleh orang-orang beriman pada kehidupan yang berikutnya. Di dalam al-Qur'an posisi mereka yang sesungguhnya digambarkan:
"Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang beriman: 'Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.' Dikatakan (kepada mereka): 'Kembalilah kamu ke belakang1 dan carilah sendiri cahaya (untukmu).' Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: 'Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?" Mereka menjawab: 'Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu. Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu. Dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali." (Q.s. al-Hadid: 12-5).
Orang-orang semacam ini hendaknya menyadari bahwa jika mereka tidak memiliki keimanan yang tulus di dalam hati mereka, kehidupan mereka di tengah-tengah orang-orang beriman tidak ada gunanya di hadapan Allah. Oleh karena Allah telah menganugerahkan hati nurani, kebijaksanaan, dan kemampuan untuk menimbang kepada manusia, Ia akan menanyai setiap orang secara individu dan memberinya ganjaran atau menghukumnya sesuai dengan itu. Amal-amal yang dikerjakan oleh seseorang secara ikhlas, untuk memperoleh keridhaan-Nya, akan mendapatkan pahala dari-Nya. Hanya menyatakan ketaatan saja tidaklah cukup, karena tingkah laku seseorang mesti cocok dengan apa yang dikatakannya. Dengan demikian, orang-orang yang lalai menipu diri mereka sendiri dengan berpikir bahwa hanya dengan tinggal di tengah-tengah orang-orang beriman akan menolong mereka pada Hari Pengadilan nanti. Akibat yang akan ditanggung di akhirat kelak oleh orang beramal demi kepentingan hawa nafsunya sendiri daripada untuk mencari keridhaan Allah, dinyatakan dalam sebuah Hadis Nabi Muhammad saw.: "Barangsiapa yang ingin didengar (amal kebajikannya) - Allah akan membuat (niatnya yang sebenarnya) didengar; dan barangsiapa memperlihatkan (amal kebajikannya) - Allah akan memperlihatkannya." (H.r. Bukhari Muslim).
Kelalaian Mereka yang di dalam Hatinya Ada Penyakit
"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." (Q.s. al-Hajj: 11).
Ayat ini mengungkapkan tipe "semangat" yang ditunjukkan oleh orang-orang yang tidak berpegang teguh kepada agama. Mereka tampaknya begitu bersemangat selama kepentingan pribadinya tidak terpengaruh. Meskipun demikian, bila terjadi konflik kepentingan, maka semangat dan kegembiraan mereka pun akan lenyap. Karena mereka tidak yakin atas kepastian, situasi semacam ini akan membuat mereka meninjau kembali kewajiban-kewajiban yang dituntunkan dalam ajaran agama Islam. Mereka lupa bahwa Allah menciptakan dunia ini sebagai ujian, bahwa Allah akan menguji manusia melalui berbagai macam bentuk, baik yang tampaknya baik ataupun buruk, dan bahwa hanya mereka yang istiqamah sajalah yang akan mendapatkan pahala. Penyakit yang ada di dalam hati mereka membuat mereka merasa ragu atas adanya pertolongan Allah. Daripada mempercayakan nasib mereka kepada Allah, mereka malah jatuh ke lembah keputusasaan dan mulai berpikir yang jelek-jelek terhadap Allah. Dengan demikian, maka penyakit yang tersembunyi di dalam hati mereka pun menjadi tampak ke permukaan. Di dalam al-Qur'an, Allah menggambarkan bagaimana mereka kehilangan semangat secara tiba-tiba ketika menghadapi cobaan dan mulai meragukan janji Allah:
"Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: 'Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya'." (Q.s. al-Ahzab: 12).
Sikap ini tentu saja karena adanya kekurangan dalam iman mereka. Orang-orang seperti ini tidak dapat memahami bahwa apa saja yang mereka hadapi sesungguhnya memang dibuat untuk menguji mereka. Mereka yang hatinya berpenyakit berbeda dengan orang-orang beriman yang dengan sikap tulus ketika sedang menghadapi ujian-ujian semacam itu. Orang-orang beriman menjadi semakin bersemangat dan merasa damai dengan menggantungkan kepercayaan mereka kepada Allah, apa pun yang akan menimpa mereka, dan mengetahui bahwa pertolongan Allah senantiasa dekat.
Mereka yang Tinggal di Belakang
Orang-orang yang memperlihatkan kecenderungan munafik mempunyai pemikiran yang benar-benar berbeda dengan orang-orang beriman serta sangat jauh dari al-Qur'an. Karena cacatnya keyakinan mereka, pemikiran tidak didasarkan pada bagaimana caranya menggapai keridhaan Allah namun semata-mata dalam rangka untuk memuaskan hawa nafsu mereka sendiri dan mengambil keuntungan pribadi. Karena alasan inilah mereka menganggap bahwa menyibukkan diri dalam amal-amal Islami merupakan suatu hal yang sia-sia. Karena keimanan mereka kepada akhirat agak samar-samar, mereka berpendapat bahwa amal-amal yang dilakukan untuk akhirat tidak membawa keuntungan yang memadai sebagai ganjaran dari semua kerja dan keletihan mereka. Dengan demikian, mereka punya pikiran bahwa lebih menguntungkan untuk mencurahkan waktu mereka guna memperoleh keuntungan-keuntungan duniawi yang segera daripada memberikan manfaat-manfaat kepada Islam. Karena takut tertipu, mereka lebih suka tertahan di belakang mengambil sikap "moderat", sebagaimana dinyatakan di dalam al-Qur'an:
"Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran)." (Q.s. an-Nisa': 72).
Pendek kata, mereka tidak bersemangat terhadap apa saja yang tidak memberikan keuntungan-keuntungan duniawi yang nyata kepada mereka.
Ketika dihadapkan pada situasi yang membutuhkan usaha-usaha demi kepentingan mereka yang membutuhkan, mereka yang tertindas atau orang-orang beriman, mereka mundur ke belakang. Senantiasa mengajukan uzur, mereka berupaya untuk membuatnya sangat sulit. Karena mereka tidak hidup dengan agama, mereka kekurangan motivasi dan energi untuk memecahkan masalah atau menyelesaikan suatu pekerjaan yang baik. Mereka memperlihatkan sikap enggan, baik dengan cara menarik diri secara tiba-tiba dan meninggalkan orang-orang beriman dalam kesukaran atau dengan bekerja secara apatis.
Meskipun demikian, apabila orang yang lalai ini diberi tawaran untuk menduduki suatu posisi yang bergengsi di sebuah perusahaan dengan gaji yang tinggi dan selanjutnya ia juga dijanjikan bahwa nantinya juga akan menjadi pemegang saham, maka ia pun memperlihatkan kinerja yang luar biasa, sikapnya akan sangat berbeda. Tidak diragukan lagi, menimbang keuntungan-keuntungan dari posisi itu, ia akan menunjukkan semangat yang luar biasa dalam kerjanya dan dengan cepat mampu memberikan penyelesaian-penyelesaian masalah yang memuaskan. Ada perbedaan yang mencolok antara keengganan orang-orang ini ketika diharapkan untuk bekerja demi kepentingan Islam, dan semangat yang mereka tunjukkan ketika kepentingan mereka dipertaruhkan. Karena mereka lebih suka pada manfaat-manfaat duniawi dibandingkan keridhaan Allah inilah yang menyebabkan sikap mereka berubah-ubah demikian itu.
Tinggal di Belakang Tidak Menguntungkan Namun Suatu Kebodohan
Tentu saja, keengganan dari mereka yang di dalam hatinya ada penyakit ini mengungkapkan betapa besarnya kebohongan di dalam kehidupan mereka. Tidak dapat berjuang untuk mencapai keridhaan Allah adalah suatu kerugian, karena usaha apa pun yang dicurahkan di jalan Allah akan mendatangkan keuntungan terbesar yang mungkin dicapai. Setiap amal yang dikerjakan oleh seseorang dengan ikhlas akan mendatangkan keridhaan Allah. Allah menjanjikan memberi yang terbaik kepada hamba-hamba-Nya yang diridhai-Nya, baik ketika masih berada di dunia ini maupun di akhirat kelak. Seorang mukmin yang saleh tidak bersemangat karena ia mengharap balasan yang segera di dunia ini. Mengetahui bahwa Allah ridha dengan amal yang dilakukannya saja sudah cukup baginya. Allah, pemilik keadilan, cinta, kasih sayang dan keagungan yang abadi, senantiasa siap dalam memberikan penghargaan atas amal-amal yang dikerjakan di Jalan-Nya, dan menyatakan bahwa amal apa saja, sekalipun hanya sebesar biji sawi atau atom, tidak akan disia-siakan:
"Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarrah, dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar." (Q.s. an-Nisa': 40).
"Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa." (Q.s. an-Nahl: 30).
"(Luqman) berkata: 'Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (Q.s. Luqman: 16).
Sungguh suatu hal yang sangat tidak bijaksana bersikap enggan dalam menjalankan amal-amal saleh karena semakin serius seseorang beramal, semakin besar ganjaran yang diterimanya baik di dunia ini dan di akhirat nanti. Demikian pula, semakin ia lalai, semakin rugi pulalah dirinya.
www.harunyahya.com

MANFAAT SEMANGAT DAN KEGEMBIRAAN BAGI ORANG-ORANG BERIMAN

Memperoleh Kekuasaan dan Kekuatan
Sepanjang hayatnya orang-orang berupaya untuk mencari jalan guna memperoleh kekuatan mental dan fisik. Demi tercapai tujuan ini mereka pun menggunakan pengobatan dan ilmu pengetahuan dengan harapan mendapatkan hasil dari berbagai obat-obatan atau latihan-latihan mental. Meskipun demikian, mereka tidak berhasil mendapatkan formula yang dapat membuat mereka tetap tangkas, bersemangat, dan enerjik hingga akhir hayatnya.
Satu-satunya cara yang dapat membuat seseorang dapat tetap kuat dan cekatan secara mental dan fisik adalah iman. Ketakwaan kepada Allah di dalam hati seseorang membuatnya cekatan, waspada, dan kuat setiap saat. Allah mengaruniai orang-orang beriman kekuatan ini karena keimanan mereka kepada-Nya dan mengamalkan al-Qur'an, lagi pula hasrat dan semangat orang-orang beriman dalam memperoleh keridhaan Allah memberikan kepada mereka kekuatan yang tak terbatas. Karena senantiasa mengingat fakta bahwa kehidupan di dunia ini adalah singkat saja dan kematian serta pengadilan adalah dekat, senantiasa menjadi sumber motivasi dan aktivitas mereka. Semangat mereka yang berkaitan dengan iman ini tidak memungkinkan adanya rasa putus asa dan kekecewaan serta memberikan energi yang segar untuk melakukan amal-amal kebajikan satu demi satu, siang dan malam.
Selain kekuatan fisik, orang-orang beriman juga memiliki kesadaran dan keinsyafan yang jernih. Mereka dapat merasakan dengan cepat sisi-sisi yang rumit dari peristiwa-peristiwa, membuat solusi yang terang yang tidak dapat dilihat oleh orang-orang lainnya, mengidentifikasi kejadian-kejadian dengan cara yang paling komprehensif, dan menarik kesimpulan-kesimpulan paling akurat. Bahkan pada saat-saat kecapaian pun, mereka memiliki kesadaran yang tajam karena semangat yang ada pada diri mereka. Mereka menjalankan tugas-tugas mereka dengan cara setepat dan sesempurna mungkin dan, dengan kehendak Allah, memperoleh hasil-hasil yang sukses. Singkatnya, mereka memperlihatkan kemantapan dan kekuatan yang tak terkira dalam mengerjakan apa saja yang mereka lakukan dan tidak pernah loyo. Bilamana mereka tidak mencapai keberhasilan yang segera, mereka tidak pernah merasa putus asa dan kehilangan komitmen mereka, karena menyadari bahwa hasil akhir dari setiap amal senantiasa layak bagi orang-orang beriman.
Mendapatkan Bantuan dan Dukungan dari Allah
"Dan sungguh Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Maha Perkasa." (Q.s. al-Hajj: 40).
Dalam ayat ini Allah menjanjikan pertolongan-Nya kepada mereka yang berpegang teguh kepada agama mereka dengan bersemangat. Di dalam al-Qur'an, Allah memberikan contoh mengenai Thalut dan pasukannya. Beberapa orang anggota pasukan Thalut yang akan bertempur dengan pasukan Jalut menunjukkan keloyoan dan berlagak seolah-olah mereka tidak memiliki kekuatan untuk bertempur. Meskipun demikian, mereka yang memiliki iman sejati kepada Allah dan mengabdi kepada-Nya dengan penuh semangat memperlihatkan keberanian dan berkata:
"Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (Q.s. al-Baqarah: 249).
Mereka mencari perlindungan kepada Allah, maka Allah pun menolong hamba-hamba yang saleh ini dengan bantuan-Nya dan memenangkan mereka atas pasukan Jalut, sekalipun jumlah mereka sedikit. Kejadian ini diceritakan di dalam al-Qur'an sebagai berikut:
"Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: 'Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku." Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: 'Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.' Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan bertemu Allah berkata: 'Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.' Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, mereka pun berdoa: 'Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.' Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Dawud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Dawud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam." (Q.s. al-Baqarah: 249-51).
Selain itu, Allah menambahkan keimanan yang lebih banyak lagi atas iman para hamba-Nya yang berbakti dan menguatkan mereka dengan mengirimkan ketenangan ke dalam hati-hati mereka manakala mereka berpegang teguh kepada agama. Perasaan tenang ini membuat mereka tidak merasa cemas atas apa pun yang akan menimpa mereka. Bantuan Allah kepada orang-orang beriman untuk membangkitkan semangat mereka, dinyatakan di dalam al-Qur'an:
"Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allahlah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (Q.s. al-Fath: 4).
"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)." (Q.s. al-Fath: 18).
"Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang kafir." (Q.s. at-Taubah: 26).
Kita juga diberitahu di dalam al-Qur'an bahwa manakala orang-orang kafir membuat rencana untuk membunuh Nabi saw., Allah menolongnya dengan menurunkan ketenangan:
"Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekkah) mengeluarkannya (dari Mekkah) sedang dia salah seorang dari dua orang1 ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: 'Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.' Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Q.s. at-Taubah: 40).
Pertolongan Allah, sebagaimana dinyatakan di dalam al-Qur'an, adalah salah satu ganjaran yang akan diterima oleh orang-orang beriman di dunia ini karena semangat mereka. Pahala yang mereka dapatkan di akhirat nanti, pada satu sisi, tentu saja lebih besar.
Memperoleh Surga
Allah telah memberi kabar gembira tentang surga bagi mereka yang beriman dan beramal saleh:
"Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: 'Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.' Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya." (Q.s. al-Baqarah: 25).
Allah akan mengaruniakan kenikmatan-kenikmatan ini kepada mereka sebagai balasan atas semangat dan usaha yang telah mereka perlihatkan dalam kehidupan di dunia ini. Orang-orang beriman mengamalkan ayat ini:
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi." (Q.s. Ali Imran: 123).
Mereka mencurahkan segala upaya mereka untuk mencapai surga, karena Allah berfirman:
"Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui." (Q.s. al-Baqarah: 158).
Allah membalas amal-amal kebajikan yang dikerjakan secara tulus ikhlas dan sepenuh hati, dengan demikian orang-orang beriman akan mendapat pahala untuk segala amal yang mereka kerjakan dengan ikhlas, sekalipun hanya sebesar atom. Dengan demikian, mereka akan merasa ridha terhadap Tuhan mereka dan Tuhan mereka pun akan merasa ridha kepada mereka:
"Allah berfirman: 'Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar'." (Q.s. al-Ma'idah: 119).
Kepada orang-orang yang benar akan dikatakan:
"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (Q.s. al-Fajr: 27-30).
www.harunyahya.com

APA YANG MEMBANGKITKAN GAIRAH ORANG-ORANG BERIMAN

Pengamatan atas Keindahan Ciptaan Allah
Kemana pun seseorang memandang, ia akan mendapati contoh-contoh indahnya ciptaan Allah yang menakjubkan. Di dalam ayat-ayat al-Qur'an Allah berfirman:
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?" (Q.s. Fushilat: 53).
Orang-orang beriman senantiasa bangkit gairahnya tatkala mereka memperhatikan susunan dan kesempurnaan yang terus menerus diciptakan oleh Allah di setiap sudut alam semesta ini. Mereka menyaksikan adanya kebijakan, keagungan, dan keindahan tiada tara di balik keajaiban-keajaiban ini, dan timbul perasaan bahagia di dalam hatinya ketika merenungkan keagungan ciptaan Allah tadi. Mereka merasa heran tatkala memperhatikan orang-orang yang tetap tidak memiliki kepekaan atas keajaiban-keajaiban ini. Jika orang-orang semacam itu mau mendengarkan suara hati nuraninya sebentar saja dan berpikir dengan jujur, maka mereka pun pasti akan merasakan keagungan dan betapa eloknya ciptaan Allah. Sebagaimana dinyatakan di dalam banyak ayat al-Qur'an, kesempurnaan ciptaan Allah benar-benar sangat mengesankan sehingga siapa pun yang mau menggunakan hati nuraninya dapat menyaksikannya. Dalam sebuah ayat dinyatakan bahwa ketika orang-orang beriman memikirkan adanya keagungan di dalam ciptaan Allah, mereka pun merasa takjub:
"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): 'Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka'." (Q.s. Ali Imran: 191).
Orang-orang beriman yang merenungkan dengan sungguh-sungguh hal-hal yang masuk di dalam kesadarannya menyadari, bahwa penciptaan langit dan bumi merupakan tanda adanya kebijaksanaan dan kekuasaan yang abadi. Mereka menyadari bahwa Allah menyimpan ratusan dan ribuan maksud dalam setiap ciptaan-Nya dan mereka benar-benar merasa sangat takjub susunannya atas kesempurnaan. Tidak sebagaimana perasaan gusar yang dimiliki oleh masyarakat jahiliah, seseorang mendapat bimbingan ke jalan Allah yang lurus karena adanya rasa takjub dan bahagia. Konsekuensi dari rasa takjub dan pemahaman yang menyeluruh ini adalah semakin kuat rasa keimanan, bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Semakin orang-orang beriman berpikir mengenai keindahan dan keelokan makhluk-makhluk yang terdapat di sekitar mereka, maka mereka pun semakin menyadari kekuasaan, kebijaksanaan, dan keagungan Allah, dimana merupakan satu-satunya kawan dan pelindung bagi seseorang. Mereka pun bersegera berdzikir kepada-Nya, memuji-Nya, dan berlindung kepada-Nya dari azab-Nya, sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas tadi: "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka."
Menyaksikan Rahmat dan Keindahan
Orang-orang yang paling merasakan takjub atas berbagai rahmat Allah dan mendapatkan paling banyak kenikmatan darinya adalah mereka yang beriman. Mereka tahu bahwa segala sesuatu adalah ciptaan Allah dan menyadari bahwa apa pun peristiwa yang mereka temui dan mereka lihat merupakan rahmat daripada-Nya. Dengan demikian suatu keindahan tertentu memiliki makna yang sangat berarti bagi mereka dibandingkan bagi orang-orang lainnya.
Alasan lain mengapa orang-orang beriman dapat merasakan takjub, adalah karena mereka dapat memperhatikan secara rinci dan detail apa-apa yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Mereka yang tidak dapat menggunakan akalnya secara semestinya dan tidak merenungkan secara mendalam atas kejadian-kejadian yang ada hanya akan memahami penampakan lahirnya saja. Dengan demikian, rasa takjub mereka sangatlah terbatas. Akan tetapi sebaliknya, bagi orang-orang beriman, mereka mampu melihat sisi-sisi yang berkaitan dengan keimanan dan maksud-maksud Ilahiah yang terkandung di dalam segala sesuatu yang mereka jumpai. Dengan demikian, mereka dapat menghargai banyak detail dan rahmat yang memberikan kebahagiaan serta rasa kagum yang lebih besar.
Alasan lainnya lagi mengapa orang-orang beriman dapat melihat rahmat-rahmat ini secara mendetail dan lebih memiliki kesan adalah sebagai berikut: seseorang yang bersikap sombong kepada Allah tidak dapat mengenali keindahan dan keajaiban ciptaan-Nya, karena bila ia mengakui kekuasaan Allah itu berarti ia mengakui kekurangan dirinya. Karena ia tidak dapat menerima hal ini, maka ia pun tidak akan mampu melihat keindahan yang terdapat pada makhluk-makhluk sebagaimana mestinya. Bahkan andaikata ia memperhatikan makhluk-makhluk itu, ia lebih suka menjelaskannya begitu saja dan menekan rasa kekagumannya.
Lepas dari sikap angkuh dan kepura-puraan, orang-orang beriman tidak pernah luput dalam menghargai keindahan benda-benda dan menyaksikan kehebatan ciptaan Allah, dan mereka pun menyatakan perasaan dalam hatinya serta kekagumannya secara terbuka. Misal, tatkala mereka menyaksikan sekuntum bunga mawar atau warna ungu yang dapat ditangkap oleh mata, maka bangkitlah kebahagiaan memandang keindahan itu dan mereka pun menyadari bahwa ini adalah perwujudan dari sifat Allah yang indah "al-Jamil". Keindahan dan pesona yang terpancar dari makhluk-makhluk mengarahkan mereka untuk merenungkan kekuasaan yang tidak terhingga serta keindahan sang Pencipta. Dalam perenungan ini mereka semakin merasa takjub, karena mereka dapat merasakan bahwa semua keindahan ini telah diciptakan untuk mereka dan bahwa semuanya itu adalah karunia dari Allah. Mereka merasakan kekaguman dengan mengetahui bahwa semua itu adalah tanda-tanda kasih sayang Allah kepada mereka. Mereka berpikir dengan bahagia bahwa sekalipun semua keindahan ini tidak banyak berarti bagi banyak orang, namun mereka telah menjadi orang-orang yang beruntung, telah menjadi kekasih-kekasih Allah yang mendapatkan kebahagiaan paling banyak dari rahmat-rahmat-Nya. Mereka merasa bersyukur bahwa Dia telah menganugerahkan kepada mereka kesempatan untuk melihat keindahan-keindahan ini dan telah mencurahkan karunia-Nya kepada mereka, dan mereka merasakan kebahagiaan yang amat sangat karena dapat bersyukur kepada Allah.
Mereka merasa bahagia karena Allah telah memberinya mata untuk melihat keindahan-keindahan ini, kesadaran yang jernih untuk memahaminya, dan keimanan yang tulus untuk mensyukurinya. Mereka merasa diistimewakan, karena banyak orang yang tidak dapat menikmati kebahagiaan dari hal-hal yang indah diakibatkan oleh kebutaan ruhaninya. Namun mereka dapat melihat dan menikmati keindahan-keindahan ini karena Allah telah memilih mereka dan menjadikan mereka mencintai agama. Selain itu, setelah mereka merenungkan berbagai rahmat, desain-desainnya yang sempurna serta kebijakan abadi yang terwujud di dalamnya, mereka meningkatkan rasa takzim kepada Allah dan kekaguman mereka atas keindahan ciptaan-Nya. Sebagaimana firman Allah:
"Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu minta kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)." (Q.s. Ibrahim: 34).
Dengan demikian, mereka dalam keadaan takjub atas berbagai karunia yang tidak terkira jumlahnya yang ada di dunia ini. Dengan rasa syukur kepada Allah mereka bergembira karena berpikir bahwa Allah telah memberikan semua karunia ini dari rahmat-Nya; Ia telah memberikan karunia sebanyak ini, padahal kalau mau dapat saja Ia memberinya lebih sedikit dari ini. Allah berfirman:
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Q.s. Ibrahim: 7).
Dengan mengingat bahwa Allah akan menambah nikmat lebih banyak lagi kepada mereka yang bersyukur adalah kebahagiaan tambahan.
Dengan mengetahui bahwa Allah telah menciptakan bagi mereka masa hidup yang penuh dengan karunia dan keindahan serta suatu takdir yang senantiasa membawa kebaikan membuat semangat mereka segar kembali. Orang beriman menyadari bahwa Allah melindungi dan melimpahkan kasih sayang-Nya kepadanya setiap saat, dan kedua hal ini adalah karunia dari-Nya. Sungguh, Allah melimpahkan kasih sayangnya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan seseorang berjalan ke arah kehidupan yang menyenangkan dan membahagiakan hanyalah semata-mata karena Allah telah menetapkannya. Fakta ini telah ditekankan di dalam banyak ayat seperti berikut ini:
"Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan Dia pilih." (Q.s. al-Qashash: 68).
"Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekufuran) kepada cahaya (iman)." (Q.s. al-Baqarah: 257).
"Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus." (Q.s. al-Baqarah: 213).
Seorang yang beriman tahu bahwa ia berhutang budi atas rahmat-rahmat yang dinikmatinya itu kepada Allah. Allah telah memilihnya, memberinya kesempatan untuk hidup dengan nyaman, menjauhkannya dari kejahatan, dan menciptakannya dengan kemampuan-kemampuan khusus, dimana hal ini benar-benar sangat menyenangkannya. Dengan gairah ia pun kembali kepada-Nya dan bekerja sungguh-sungguh demi mendapatkan keridhaan-Nya, baik melalui sikap maupun perilakunya. Sebagaimana ketika ia mengamati keindahan-keindahan yang ada di dunia ini, ia berpikir tentang surga, pasti betapa sempurna dan tiada cacatnya keindahan-keindahan di surga sana, dan menjadi sangat bergairah untuk mencapainya. Semangat yang ada pada diri orang-orang beriman dinyatakan dalam sabda Nabi Muhammad saw.: "Sungguh, dalam setiap tasbih adalah sedekah, dalam setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan dalam mengatakan 'Tidak ada tuhan selain Allah' adalah sedekah pula." (H.r. Muslim dan Ahmad).
Apa yang telah disebutkan di atas tadi hanyalah sedikit contoh dari hal-hal yang membangkitkan gairah orang-orang beriman. Buku ini terlalu terbatas untuk menyebutkan semua rincian tentang hal-hal yang diperhatikan oleh orang-orang beriman. Cakrawala pandangan mereka luas, dan kemampuan refleksi mereka juga kuat. Kesenangan yang tidak pernah dialami oleh orang-orang kafir adalah karunia besar yang dianugerahkan kepada orang-orang beriman.
Cinta dan Persahabatan
Kebanyakan orang mengeluh karena tidak dapat menemukan cinta dan persahabatan sejati di sepanjang hidup mereka dan benar-benar merasa yakin bahwa adalah hal yang mustahil untuk mendapatkannya. Hal ini memang benar bagi mereka yang hidup di tengah-tengah masyarakat jahiliah, yang tidak pernah meraih cinta dan persahabatan sejati, oleh karena rasa kasih sayang yang mereka berikan satu sama lain sering kali adalah karena dorongan kepentingan. Begitu mereka tidak lagi mendapatkan keuntungan-keuntungan yang dapat diraih, keakraban yang selama ini mereka anggap sebagai cinta atau persahabatan pun berakhir.
Orang-orang yang mengalami cinta dan persahabatan sejati serta menjalaninya dengan makna yang sesungguhnya adalah orang-orang beriman. Alasan utamanya, sebagaimana dinyatakan di muka dalam buku ini, adalah karena mereka mencintai satu sama lain, bukan karena mencari keuntungan, namun hanyalah semata-mata karena orang-orang yang mereka cintai itu adalah orang-orang yang memiliki iman yang tulus dan taat. Apa yang membuat seseorang dicintai dan memiliki daya tarik untuk dijadikan teman adalah karena ketakwaannya kepada Allah, dan kesalehannya yang telah membuat seseorang hidup dengan nilai-nilai al-Qur'an secara cermat. Seseorang yang hidup dengan nilai-nilai al-Qur'an juga mengetahui karakteristik-karakteristik apa saja yang mesti dimilikinya agar dapat dijadikan sebagai seorang teman yang berharga, dan dia pun mengambil karakteristik-karakteristik ini sesempurna mungkin. Dan demikian pula, ia pun dapat mengapresiasi karakteristik-karakteristik yang dapat dikagumi pada orang lain dan dapat mencintai dengan sesungguhnya.
Selama pemahaman mengenai hal ini senantiasa ada dan nilai-nilai Qur'ani meliputi diri mereka, kebahagiaan yang diperoleh dari cinta dan persahabatan tidak pernah hilang. Lebih jauh lagi, semakin orang itu memperlihatkan akhlak yang baik, kesenangan dan kebahagiaan yang mereka dapati dari cinta dan persahabatan pun senantiasa meningkat. Tatkala mereka saling memperhatikan satu sama lain sifat-sifat khas yang ada pada diri orang-orang beriman, tanda-tanda adanya iman dan nurani, ketulusan, ketakwaan kepada Allah dan kesalehan, maka gairah mereka pun semakin tumbuh subur. Gairah mereka terasa terbangkitkan karena berada di tengah-tengah lingkungan orang-orang yang mendapat keridhaan dan kasih sayang dari Allah serta senantiasa cenderung untuk berusaha meraih kedudukan yang tinggi di akhirat kelak. Begitulah, mereka merasa bahagia bersahabat dengan orang-orang yang oleh Allah sendiri telah dijadikan sebagai para kekasih-Nya.
Oleh karena kecintaan di antara mereka dilandasi oleh sebuah pemahaman tentang persahabatan yang kekal selamanya, maka kecintaan itu tidak akan berkurang atau berakhir dengan adanya kematian. Sebaliknya, justru makin kekal secara sempurna. Dari aspek inilah pemahaman tentang cinta bagi orang-orang beriman berbeda dengan pemahaman masyarakat jahiliah. Cinta dan persahabatan pada masyarakat jahiliah tidak dilandasi niat untuk senantiasa bersama selama-lamanya, maka mereka pun tidak dapat mempraktikkan konsep-konsep kesetiaan, kepercayaan, dan amanah yang sejati. Jika dua orang yang mengaku sebagai kawan membuat suatu syarat khusus yang melandasi persahabatan mereka, maka itu berarti mereka dapat mengakhiri pertemanan mereka kapan saja. Kedua belah pihak yang menyadari adanya kemungkinan ini pun lalu bersikap saling hati-hati satu sama lain dan merasa tidak nyaman. Kehatian-hatian merusak ketulusan, dimana hal ini merupakan prasyarat dalam menjalin cinta dan persahabatan. Dalam hubungan-hubungan yang sifatnya duniawi orang-orang senantiasa memperhitungkan adanya kemungkinan berakhirnya persahabatan mereka dan, dengan demikian, mereka pun menghindari untuk menunjukkan sifat ketulusan dimana nantinya dapat membuat mereka merasa malu bila kelak keramah-tamahan ini telah berakhir.
Di lain pihak, bagi orang-orang beriman, mereka memiliki ketulusan dan tidak pernah bersikap pura-pura. Seseorang yang berniat untuk bersama-sama dengan orang lain untuk selama-lamanya adalah seseorang yang telah memiliki komitmen untuk menunjukkan kesetiaan, cinta, dan persahabatan yang tiada putus-putusnya. Karakteristik istimewa mengenai cinta dan persahabatan dari orang-orang beriman ini, yaitu kesediaan untuk bersama-sama selama-lamanya, membuat mereka dapat memperoleh kebahagiaan yang besar dari kasih sayang yang mereka alami serta kegembiraan karena punya harapan untuk berada bersama-sama dengan orang-orang yang mereka cintai di surga nanti. Ini juga merupakan kesenangan, karena adanya kepastian, sehingga mereka akan bersikap setia kepada orang-orang yang mereka cintai selama-lamanya.
Melindungi Kebenaran
"Mengapa kamu tidak mau berperang demi membela agama Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: 'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekkah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau'." (Q.s. an-Nisa': 75).
Di dalam ayat ini Allah meminta perhatian atas situasi orang-orang yang tertindas dan menunggu adanya dukungan atau sekutu. Ayat ini berkenaan dengan upaya untuk melindungi orang-orang yang tidak bersalah yang tidak mampu untuk membela hak-hak mereka sendiri, menolong mereka dan menjamin adanya keselamatan atas diri mereka sebagai sebuah tanggung jawab bagi orang-orang beriman.
Orang-orang beriman yang memiliki kesadaran atas tanggung jawab-tanggung jawab mereka merasakan adanya hasrat dan keinginan yang sangat besar untuk menyelamatkan orang-orang yang tertindas hanya karena mereka beriman kepada Allah. Mereka memiliki nurani dan pemahaman yang tepat tentang keadilan, maka mereka pun tidak pernah mau memaafkan adanya penindasan terhadap orang-orang yang tidak bersalah; maka, mereka pun memberikan dukungan secara moral dan material. Untuk tujuan inilah gairah dan semangat mereka memberikan keberanian dan kekuatan yang sangat besar kepada mereka.
Allah juga meminta tanggung jawab kepada orang-orang beriman untuk memerangi kemungkaran dan mencegahnya, dimana hal ini menambah semangat mereka. Memerangi kemungkaran, menghapuskan tirani dari muka bumi, dan mewujudkan perdamaian serta kesejahteraan adalah termasuk diantara perbuatan-perbuatan yang paling mulia dan luhur bagi kemanusiaan. Mengenai pentingnya memenuhi tugas untuk mencegah kemungkaran ini dinyatakan di dalam al-Qur'an:
"Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik." (Q.s. al-A'raf: 165).
Di dalam al-Qur'an banyak nabi yang disebutkan karena semangat dan keteguhan mereka dalam membela kebenaran dan memerangi kemungkaran. Nabi Musa a.s. misalnya, telah berjuang keras untuk menyelamatkan Bani Israel dari tirani Fir'aun. Dalam al-Qur'an, Fir'aun digambarkan sebagai "Berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas." (Q.s. Yunus: 83). Dia telah memperbudak bangsa Mesir, membunuh anak laki-laki mereka dan menistakan anak-anak perempuan mereka. Allah mewahyukan kepada Nabi Musa a.s.:
"Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir'aun) dan katakanlah: 'Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israel bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk'." (Q.s. Thaha: 47).
Maka beliau pun mendatangi Fir'aun dan memintanya untuk menghentikan tiraninya atas bangsanya dan membiarkan mereka untuk meninggalkan Mesir bersamanya.
Ayat ini memberikan contoh betapa Nabi Musa a.s. memikul tanggung jawab untuk melindungi bangsanya, dan untuk inilah ia berjuang tiada henti selama bertahun-tahun hingga akhirnya tirani Fir'aun pun tamat riwayatnya. Selain itu, beliau pun berjuang untuk memperkuat moral bangsanya, dan dengan sabar menyeru mereka agar memohon pertolongan kepada Allah. Sungguh, sebagai hasil dari semangat dan keteguhan yang diperlihatkannya, Allah pun memberikan kemenangan kepada beliau dan para pengikutnya atas diri Fir'aun.
Sebagaimana diungkapkan oleh contoh-contoh semacam ini, orang-orang beriman senantiasa berada pada pihak yang benar, yaitu berada bersama-sama dengan orang-orang yang memiliki kasih sayang, toleransi, sikap siap membantu dan rela berkorban ketika menghadapi orang-orang yang melakukan keangkaramurkaan, tidak adil, dan mementingkan diri sendiri. Mereka senantiasa berjuang untuk menghentikan tirani para penindas dan membebaskan mereka yang tertindas. Dalam melakukan hal ini, mereka merasakan gairah dan kebahagiaan karena dapat memenuhi perintah Allah. Dan melalui amal kesalehan ini mereka menerapkan keadilan yang disukai oleh Allah, mendengarkan suara hati nurani mereka, hidup dengan nilai-nilai Qur'ani, dan menjaga keselamatan orang-orang yang tidak berdosa. Maka mereka pun memperoleh kebahagiaan dari semua amal kebajikan ini dan pahala-pahala yang mereka terima.
Komitmen dari orang-orang beriman dalam masalah ini meningkatkan akhlak mereka. Badiuzzaman (Said Nursi) memberi tahu akan fakta bahwa mereka yang memikul tanggung jawab besar dengan niat untuk memperoleh keridhaan Allah akan mencapai kematangan moral: "Manakala seseorang punya komitmen pada dirinya sendiri dengan tujuan-tujuan yang mulia, maka amal-amalnya pun menjadi semakin ikhlas. Dan ketika ia melakukan amal-amal yang semakin banyak demi kepentingan kaum muslimin, maka dia sendiri mencapai kematangan moral."1
Ibadah
Bagi orang-orang beriman mencari keridhaan dan kecintaan Allah merupakan suatu hal yang mendapat prioritas atas segala hal lainnya. Dengan demikian, sepanjang hayatnya mereka terus menerus mencari jalan untuk makin mendekatkan diri kepada-Nya. Allah telah memerintahkan:
"Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya." (Q.s. al-Ma'idah: 35).
Orang-orang beriman memandang bahwa menjalankan kewajiban-kewajiban ibadah yang diperintahkan di dalam al-Qur'an adalah termasuk sarana yang dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah. Meskipun demikian, mereka menyadari bahwa hanya melakukan hal ini saja tidaklah cukup, dan yang lebih penting lagi adalah adanya keikhlasan dan semangat yang dirasakan oleh seseorang ketika sedang beribadah. Sesungguhnya, Allah telah menyatakan bahwa daging dan darah dari hewan-hewan korban itu tidak akan sampai kepada-Nya namun ketakwaan dari orang-orang yang berkorban itulah yang akan sampai kepada-Nya:
"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (Q.s. al-Hajj: 37).
Kesadaran atas fakta ini mengarahkan orang-orang beriman untuk menyibukkan diri di dalam amal-amal saleh dengan penuh semangat untuk menjalankan suatu kewajiban dalam beribadah. Mereka memahami bahwa keikhlasan adalah sifat yang paling dihargai oleh Allah. Bahwa amal-amal yang dikerjakan dengan ikhlas karena Allah mendapat penghargaan yang besar di mata Allah, juga disebutkan di dalam sebuah Hadis Nabi Muhammad saw., di mana seorang mukmin yang baik digambarkan sebagai seseorang yang merasakan kebahagiaan ketika mengerjakan shalat, menjalankan ibadah kepada Tuhannya dengan sebaik-baiknya, dan menaati-Nya ketika sedang dalam keadaan sunyi. Di dalam al-Qur'an banyak diberikan contoh mengenai semangat dan gairah yang dirasakan oleh orang-orang beriman dalam menjalankan ibadah. Beberapa di antaranya akan disebutkan dalam halaman-halaman selanjutnya.
Membaca al-Qur'an
Di dalam al-Qur'an Allah memberikan gambaran mengenai orang-orang beriman:
"Sesungguhnya orang-orang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri." (Q.s. as-Sajdah: 15).
Bersujud ketika dibacakan ayat-ayat al-Qur'an merupakan tanda adanya keimanan yang kuat dan kebahagiaan yang mereka rasakan karena menjadi hamba Allah.
Mereka merasa sangat bersuka cita karena memiliki al-Qur'an, kitab yang diwahyukan Allah yang mencakup semua pengetahuan, dengan menyadari bahwa setiap ayat dari al-Qur'an adalah manifestasi dari kasih sayang, rahmat, dan keadilan Allah terhadap diri mereka. Lebih jauh lagi, mereka merasakan kebahagiaan yang sangat besar di dalam jiwa mereka karena telah diberi nikmat kesadaran yang jernih sehingga mereka dapat memahami semua itu. Dengan demikian, mereka pun merasa dekat kepada Allah dan merasakan adanya keterikatan yang mendalam dengan-Nya, yang memberikan mereka perasaan tenang. Di dalam al-Qur'an dinyatakan bahwa orang-orang beriman menyungkur sujud, menangis karena perasaan yang mereka alami tatkala mendengarkan firman-firman Allah:
"Katakanlah: 'Berimanlah kamu kepadaNya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah).' Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila al-Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: 'Mahasuci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.' Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk." (Q.s. al-Isra': 107-9).
Di dalam ayat-ayat di atas Allah memberitahukan bahwa al-Qur'an, manakala dibacakan kepada orang-orang beriman, meningkatkan rasa rendah diri mereka, yaitu ketakutan dan rasa takzim mereka kepada-Nya. Dan Allah memberitahukan kepada kita bahwa para nabi pun juga menyungkur sujud, sambil menangis karena perasaan mereka ketika mendengar ayat-ayat Allah:
"Mereka adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis." (Q.s. Maryam: 58).
Di dalam ayat lainnya dinyatakan bahwa kulit-kulit orang-orang beriman yang takut kepada Allah bergetar manakala mereka mendengar ayat-ayat al-Qur'an:
"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya." (Q.s. az-Zumar: 23).
Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah Hadis Nabi Muhammad saw. bahwa orang-orang beriman mengetahui bahwa pahala bagi mereka yang membaca al-Qur'an dan berdzikir kepada Allah adalah begitu besarnya, dan hal itu semakin menambah gairah mereka: "Bertakwalah kepada Allah, karena Dialah yang akan membuat baik semua hal yang merisaukanmu. Bacalah al-Qur'an dan senantiasalah mengingat Allah, karena dengan demikian kalian akan diingat pula di langit sana, dan akan menjadi cahaya bagimu di muka bumi ini." (H.r. Ahmad).
Doa
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (Q.s. al-Baqarah: 186).
Allah telah menyeru semua orang untuk berdoa. Dia telah memberitahukan kepada mereka bahwa Dia lebih dekat kepada mereka dibandingkan urat leher mereka sendiri. Dia mendengar mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya, dan Dia pun akan menjawab doa-doa mereka. Kesempatan yang diberikan oleh Allah tersebut kepada manusia dan bahwa Dia menjadi saksi atas segala hal yang mereka ucapkan atau pikirkan adalah penyebab munculnya rasa suka cita bagi orang-orang beriman, rasa suka cita karena mengetahui bahwa Allah ada bersama mereka, perlindungan-Nya yang senantiasa diberikan atas diri-diri mereka, dan karunia-Nya terhadap mereka. Dengan alasan inilah orang-orang beriman berlindung kepada Tuhan mereka dengan perasaan yang sangat mendalam, benar-benar merasakan perlunya mendapat bimbingan dari-Nya, dan senantiasa memohon pertolongan-Nya setiap saat. Penyebab kegembiraan yang lain adalah bahwa tidak ada batas bagi mereka untuk meminta apa saja kepada Allah. Setiap orang berpeluang untuk memohon apa saja yang diperlukannya, baik hal itu penting atau tidak penting, yang sifatnya ruhaniah maupun material. Allah menjawab doa dari hamba-hamba-Nya sesuai dengan apa yang terbaik bagi mereka.
Bertobat untuk Mendekatkan Diri kepada Allah
Manusia mudah membuat kesalahan. Adalah suatu hal yang mustahil untuk mengharapkan bahwa ada seseorang yang mengetahui segala hal atau dapat melakukan apa saja dengan sempurna karena dunia ini adalah tempat di mana Allah menguji manusia. Manusia hanya akan tinggal sementara waktu saja di dunia, di mana dia akan memperoleh sifat-sifat yang lebih baik melalui petunjuk Tuhannya, dan kemudian akan melanjutkan perjalanannya ke akhirat, yang merupakan tempat tinggalnya yang abadi. Itulah sebabnya mengapa kesalahan, ketidaksempurnaan dan kegagalan adalah hal lumrah di dunia ini, dimana merupakan tempat untuk melakukan ujian. Hal yang penting adalah bagaimana caranya untuk tidak terus menerus melakukan kesalahan, namun sesegera mungkin mengikuti kebenaran begitu mengenalinya, dan meninggalkan kebiasaan buruk sebelumnya. Proses ini terus berkesinambungan menuju penyempurnaan, sekalipun orang-orang beriman menyadari bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang lemah dan tidak sempurna. Dengan demikian, mereka pun meminta ampunan dari Allah dan bertobat. Tobat, suatu bentuk ibadah yang penting dan diperintahkan di dalam al-Qur'an, membuat mereka merasakan kebahagiaan ruhaniah.
Manakala orang-orang beriman melakukan kesalahan, mereka tidak memperlihatkan sikap pesimis; akan tetapi mereka merasakan adanya harapan bahwa Allah akan mengampuni mereka. Begitu mereka menyadari bahwa mereka telah melakukan suatu perbuatan dosa, mereka segera meminta perlindungan kepada Allah dan memohon ampunan-Nya. Allah menggambarkan karakteristik dari hamba-Nya yang ikhlas ini di dalam al-Qur'an:
"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (Q.s. Ali Imran: 135).
Kabar gembira dari Allah bahwa Dia menerima tobat dari hamba-hamba-Nya yang ikhlas mendatangkan harapan dan kegembiraan. Hal ini karena hingga kematian datang kepada mereka, bahkan orang yang paling jahat pun di dunia ini memiliki kesempatan untuk menyucikan dirinya dari dosa dan memperoleh atribut untuk memasuki surga. Allah menggambarkan rahmat dan kasih sayang-Nya terhadap semua umat manusia sebagai berikut:
"Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'." (Q.s. az-Zumar: 53).
Dengan merasakan kasih sayang dan rahmat Allah kepada mereka dan mengharapkan ampunan-Nya setiap saat mereka kembali kepada-Nya mendatangkan rasa cinta dan kegembiraan yang mendalam di dalam hati orang-orang beriman.
Menyampaikan Nilai-nilai
Luhur al-Qur'an
Allah memerintahkan dibentuknya suatu jamaah di tengah-tengah umat manusia yang menyeru kepada kebaikan:
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." (Q.s. Ali Imran: 104).
Sesuai dengan seruan yang tercantum di dalam ayat ini orang-orang beriman memiliki keikhlasan, berupaya untuk menyampaikan kebaikan nilai-nilai akhlak yang terdapat di dalam al-Qur'an, menunjukkan kerusakan akhlak yang terdapat di tengah-tengah masyarakat jahiliah, dan dengan kehendak Allah, membimbing manusia ke jalan yang benar. Karena mereka sendiri sudah merasakan kedamaian dan kenyamanan dengan cara hidup yang Islami, mereka pun mengharapkan agar orang lain juga dapat mengalami hal yang sama. Selanjutnya, karena mengetahui bahwa neraka benar-benar ada, mereka ingin melindungi semua orang dari siksaan yang kekal dengan cara mendorong mereka untuk menjalani kehidupan yang diridhai oleh Allah, karena amal-amal seseorang di dunia ini menentukan kehidupan abadinya kelak di surga atau neraka. Bahkan keselamatan abadi bagi satu orang saja punya arti yang besar bagi orang-orang beriman. Dengan alasan inilah mereka punya komitmen untuk mengorbankan apa saja dalam rangka menyelamatkan seseorang dari neraka dan membimbingnya menuju ampunan dan kasih sayang Allah. Barangkali mereka akan mencurahkan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun, siang dan malam, guna membantu seseorang agar menerapkan nilai-nilai Islami yang baik. Demikian pula, mereka pun dengan bersemangat mengeluarkan harta kekayaannya demi hal ini. Semangat yang mereka rasakan memberikan kekuatan yang besar baik secara fisik maupun ruhani. Hingga akhir hayatnya mereka tidak pernah berhenti menyampaikan pesan-pesan Allah dengan cara yang paling baik dan paling bijaksana.
Meskipun demikian, perlu dijelaskan bahwa sekalipun semua upaya mereka tidak mendatangkan hasil atas turunnya hidayah kepada satu orang pun, mereka tidak akan pernah merasa frustrasi karena tugas dari seorang mukmin hanyalah sekadar menyampaikan pesan, sedangkan Allahlah yang sesungguhnya memberikan hidayah kepada seseorang. Dari al-Qur'an kita tahu bahwa banyak penyembah berhala di Mekkah yang tidak memeluk Islam, sekalipun Nabi Muhammad saw. telah melakukan berbagai upaya dengan tulus dan sungguh-sungguh. Akan tetapi usaha-usaha yang telah beliau saw. kerjakan tadi tetap mendapatkan ganjaran, dan Allah mewahyukan kepada beliau saw.:
"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk." (Q.s. al-Qashash: 56).
Di dalam al-Qur'an dinyatakan bahwa semua nabi telah menunjukkan komitmen yang sama dalam menyampaikan risalah dari Tuhan mereka. Kesukaran-kesukaran yang mereka hadapi tidak pernah mematahkan semangat mereka. Bahkan sebaliknya, mereka senantiasa melakukan berbagai upaya untuk menunjukkan jalan yang benar kepada umat mereka. Upaya-upaya penuh semangat yang telah dilakukan oleh Nabi Nuh a.s. telah digambarkan sebagai berikut:
"Nuh berkata: 'Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah berdakwah kepada kaumku malam dan siang, namun dakwah itu hanya menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku berdakwah kepada mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri. Kemudian sesungguhnya aku telah berdakwah kepada mereka (untuk beriman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku (berdakwah kepada) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan diam-diam, maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun'." (Q.s. Nuh: 5-10).
Sebagaimana diungkapkan dalam ayat-ayat tadi, Nabi Nuh a.s. telah menyampaikan risalah Tuhannya dengan semangat yang tinggi untuk mendamaikan hati umatnya. Meskipun mereka selalu menolak namun beliau tidak pernah patah semangat dalam menyampaikan atribut-atribut Allah. Kendati demikian, umatnya yang berkepala batu selalu saja berpaling setiap kali mereka mendengarkan kebenaran. Karena semangat dan rasa suka cita yang dirasakannya dalam menjalankan perintah Allah untuk menyampaikan pesan-Nya, Nabi Nuh a.s. tidak mencela sikap mereka namun beliau terus saja melanjutkan tugasnya dengan keteguhan yang tiada henti. Meskipun umatnya menunjukkan keangkuhan, beliau berupaya mencari cara-cara lain yang memungkinkan guna melunakkan hati mereka. Niat beliau adalah untuk membebaskan mereka dari kerusakan masyarakat jahiliah dengan cara mengingatkan kepada mereka mengenai kebesaran Allah, baik secara terbuka maupun tertutup.
Perlu diingat bahwa upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Nabi Nuh a.s. dan yang lainnya dalam menyampaikan risalah ini, dengan semangat yang tinggi dan keikhlasan, tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa ganjaran. Insya Allah, setiap kata yang disampaikan dan setiap detik yang dicurahkan di jalan-Nya akan mendapatkan ganjaran yang berlipat ganda.
"Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat, yang rukuk yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu." (Q.s. at-Taubah: 112).
Berpikir tentang Surga
Salah satu hal yang paling menimbulkan perasaan gembira bagi orang-orang beriman adalah surga dan karunia-karunia yang akan mereka peroleh di sana. Surga adalah tempat yang selama ini belum pernah ada dalam kehidupan dunia ini; tak ada satu pun cacat dan celanya kehidupan di sana. Surga diciptakan bukan sebagai ujian, sebagaimana kehidupan di dunia ini, namun adalah tempat untuk memberikan ganjaran. Lagi pula, Allah memang sengaja menciptakan dunia ini sebagai tempat yang tidak sempurna sehingga umat manusia merindukan surga dan berjuang keras untuk mencapainya. Seseorang yang berjuang untuk mencapai kesempurnaan, seumur hidupnya menginginkan surga dengan semangat yang lebih besar lagi.
Di akhirat nanti orang-orang beriman akan bergembira karena telah diselamatkan dari siksa neraka, yang selama hidupnya mereka telah berjuang untuk menghindarinya. Pada sisi lain, mereka yang memerangi agama Allah, dan orang-orang yang mengikuti al-Qur'an, serta mereka yang menentang orang-orang beriman dan berupaya menindas mereka akan mendapatkan ganjaran yang sepadan sebagai bukti keadilan Allah. Bagaimana ganjaran yang akan diterima oleh orang-orang semacam ini dan kegembiraan yang dirasakan oleh orang-orang beriman tatkala mereka menyaksikannya, dinyatakan di dalam al-Qur'an:
"Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang beriman. Dan apabila orang-orang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: "Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat, padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini,2 orang-orang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan." (Q.s. al-Muthaffifin: 29-36).
Fakta bahwa kelak orang-orang yang tidak beriman akan mendapatkan ganjaran yang sepantasnya dari Allah, menyembuhkan luka di hati orang-orang mukmin. Sungguh, hanya dengan memikirkan janji Allah saja sudah dapat membangkitkan rasa suka cita di hati orang-orang beriman.
Selain itu, mengingat salam dan ucapan selamat datang dari para malaikat di surga dan betapa kedudukan orang-orang beriman akan ditinggikan di sana adalah sumber kebahagiaan utama. Mereka akan bertemu dengan malaikat-malaikat Allah yang akan mengantar mereka ke surga, tempat tinggal mereka yang abadi. Sementara mereka yang tidak mau mengabdi kepada Allah dalam hidupnya di dunia ini, akan berada dalam ketakutan dan kesakitan ketika disergap oleh malaikat azab, sementara orang-orang beriman diiringi oleh malaikat-malaikat rahmat berada dalam kedamaian dan keamanan. Harapan ini membuat orang-orang beriman merasakan kegembiraan yang luar biasa. Bagaimana mereka akan dipertemukan di dalam surga nanti digambarkan di dalam al-Qur'an sebagai berikut:
"(yaitu) surga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum'. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (Q.s. ar-Ra'd: 23-4).
"(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): 'Salamun 'alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan." (Q.s. an-Nahl: 32).
Alasan lain mengapa pemikiran tentang surga ini membangkitkan kegembiraan di hati orang-orang beriman tidak ragu lagi adalah karunia yang dijanjikan kepada mereka yang selama ini belum dapat mereka bayangkan seperti apa wujudnya. Namun yang lebih membahagiakan lagi daripada itu adalah manakala mereka mendapatkan keridhaan Allah, suatu tujuan yang selama ini sangat mereka inginkan dan perjuangkan seumur hidup mereka:
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin3 dan Anshar4 dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." (Q.s. at-Taubah: 100).
Dalam ayat di atas Allah memberikan kabar gembira bahwa Dia akan meridhai orang-orang yang dimasukkan-Nya ke dalam surga. Demikianlah, ditekankan di dalam al-Qur'an bahwa karunia terbesar di dalam surga adalah keridhaan Allah:
"Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar." (Q.s. at-Taubah: 72).
Selain itu, Allah memberikan kabar yang lebih baik lagi kepada orang-orang beriman mengenai karunia surga:
"Salam, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang." (Q.s. Yasin: 85).
Dan ini adalah ganjaran terbaik bagi perjuangan tulus yang telah dilakukan oleh orang-orang beriman sepanjang hidup mereka.
Orang-orang beriman juga merasakan kegembiraan manakala memikirkan betapa indahnya surga, dimana jauh dari apa yang dapat dibayangkan oleh manusia, sekalipun sudah banyak diberikan gambaran yang rinci di dalam al-Qur'an. Allah telah berfirman bahwa di sana nanti terdapat banyak keindahan dan karunia yang selama ini pernah diinginkan oleh jiwa manusia atau yang selama ini dapat dibayangkannya. Cakrawala pandang manusia di dunia ini terlalu terbatas untuk dapat memberikan gambaran yang sepenuhnya mengenai berbagai macam karunia abadi tadi. Sungguh, surga dipenuhi dengan hadiah-hadiah mengejutkan yang tiada henti-hentinya bagi orang-orang beriman. Memikirkan hadiah-hadiah mengejutkan ini saja dan mengetahui bahwa mereka dengan izin Allah akan hidup kekal selamanya membuat mereka merasa sangat berbahagia.
Bahkan sejak sekarang pun orang-orang beriman telah mengetahui karunia-karunia tertentu di surga, karena telah mendapatkan gambaran-gambaran dari al-Qur'an. Misalnya, orang-orang beriman mengetahui bahwa kelak mereka akan bersama-sama dengan kawan-kawan dan orang-orang yang mereka cintai. Mereka akan berkawan dengan para nabi, syuhada, siddiqin, dan orang-orang saleh terdahulu dan akan mendapatkan penghormatan menjadi sahabat-sahabat orang-orang suci yang diridhai oleh Allah. Mereka akan menemui cinta dan persahabatan sejati di sana, dan tidak akan pernah merasa bosan.
Setan tak akan dapat mendekati para penduduk surga; ia akan dilemparkan ke dalam siksaan yang abadi di dalam api neraka, maka di surga nanti setiap orang akan memiliki sifat-sifat yang baik, tulus, dan jujur di hadapan Tuhan mereka. Di sana tidak akan dijumpai akhlak-akhlak buruk yang ada pada masyarakat jahiliah (seperti kebencian, kemarahan atau dengki); semua sifat-sifat jelek ini akan hilang untuk selama-lamanya.
Di surga nanti tidak akan ada kesulitan-kesulitan seperti yang terdapat di dunia ini. Mereka tidak perlu cemas atas rencana-rencana jahat dari orang-orang munafik. Orang-orang beriman akan diangkat derajatnya selama-lamanya, hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan di tengah-tengah kenikmatan apa pun yang diinginkan oleh nafsu mereka. Semua orang akan diciptakan dengan bentuk yang sempurna dan dibebaskan dari segala macam cacat. Bentuk tubuh mereka elok, memiliki perasaan saling menyayangi dan berusia setara. Hukum-hukum alam yang berlaku sebagaimana di dunia ini tidak lagi berjalan; suatu kehidupan baru dengan kenikmatan-kenikmatan baru telah tersedia untuk mereka yang imannya terjamin. Selain itu, surga adalah sebuah tempat yang berisi kemegahan-kemegahan fisik seperti mahligai-mahligai, pohon-pohon yang senantiasa berbuah dan mudah dipetik, sungai madu, dan keindahan-keindahan yang menarik hati lainnya.
Lebih dari itu, "keabadian", sebuah konsep yang dalam pikiran manusia sulit untuk dibayangkan, berlaku di surga. Kehidupan di surga tidak hanya terbatas selama ratusan, ribuan, miliaran, atau triliunan tahun ... namun kehidupan di sana adalah kehidupan yang kekal abadi. Manusia tidak akan merasa letih dan jenuh tinggal di sana, dan ia akan merasakan kesenangan yang besar selama-lamanya dalam setiap saat yang dilewatinya.
Memikirkan tentang kenikmatan-kenikmatan ini, sementara dirinya masih berada di dunia, dan harapan untuk mencapai surga merupakan sumber semangat dan hasrat utama orang-orang beriman. Dengan rangsangan untuk memperoleh kenikmatan-kenikmatan tersebut, mereka menjadi semakin bergairah dan melakukan upaya-upaya yang lebih banyak untuk menjadi hamba-hamba Allah yang layak menjadi penghuni surga. Sebagaimana digambarkan di dalam al-Qur'an, mereka berlomba-lomba satu sama lain dalam melakukan amal kebajikan dan berjuang untuk menjadi pemenang terbaik untuk mendapatkan "surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (Q.s. Ali Imran: 133).
www.harunyahya.com

Cari Blog Ini