welcome to murowi.blogspot.com and try to looking at moerowi.blogspot.com : welcome to murowi.blogspot.com and try to looking at moerowi.blogspot.com : welcome to murowi.blogspot.com and try to looking at moerowi.blogspot.com : welcome to murowi.blogspot.com and try to looking at moerowi.blogspot.com

Minggu, 08 April 2012

Semua orang bisa sukses

Kekuatan besar itu ada dalam diri kita, terletak pada pikiran dan perasaan. Seseorang besar karena memiliki pemikiran yang besar, dan senantiasa memiliki perasaan yang sejalan dengan kehendak Yang Maha Besar, yaitu perasaan yang senantiasa bersyukur walau sempit, senang tanpa berkeluh kesah, dan yakin kalau dirinya adalah pribadi mulia dan besar. Kitalah mahakarya Sang Maha Besar, yang diciptakan dengan bentuk sempuna.
Seseorang yang membesarkan pikirannya akan menjadi besar, dan siapa saja yang membesarkan perasaannya akan menjadi besar. Bukan kerdil dalam pemikiran, dan bukan sempit dalam berperasaan.
Pikiran dan perasaan harus sejalan. Tidak bisa terpisah antara keduanya. Pikiran boleh berapi-api, tapi jika terikat dengan perasaan ciut, maka hasilnya samadengan dikalikan nol. Begitupun sebaliknya. Berpikirlah besar dan ikat itu dengan perasaan senang dan optimis, maka alam pikiran itu akan semakin cepat terwujud.
Pikiran digunakan untuk menyerap pengetahuan. Belajarlah. Bacalah, bacalah. Jepang menjadi bangsa yang sangat cepat bangkit dari keterpurukan bencana alam dan perang dunia II (setelah Herosima dan Nagasaki di bombardir Amerika), karena semangat mereka yang besar dalam menimba ilmu pengetahuan, dan cepat sekali mereka belajar dari kawan bahkan dari musuh-musuh mereka. Mereka punya pemiimpin besar dengan pemikiran besar dan berjiwa Kstaria. (Baca Restorasi Meiji setelah Jepang dikuasia Rezim Tokugawa dan upaya-upaya Jepang bangkit Pasca Perang Dunia I dan II ).
Perasaan digunakan untuk senantiasa yakin bahwa apa yang kita pikirkan akan mewujud. Yakin, syukur, ikhlas, semuanya menyangkut perasaan. Berdoalah: ungkapkan pemikiranmu secara maupun bisikan lembut dihatimu, giatkan kerja keras dan kerja cerdasmu, kemudian serahkan semua pada Tuhan. Terkadang, kita sendiri yang tidak ikhlas dengan doa kita. Kita sendiri yang tidak mengijinkan doa kita mewujud melalui pikiran kerdil dan perasaan ragu. Perasaan juga identik dengan kebersihan hati. Hati yang senang melihat orang lain senang adalah kekuatan dahsyat. Berapa banyak orang yang kemudian terpuruk karena iri dan dengki yang dia pelihara dalam hati sehingga hidupnya hanya berkeluh kesah, fokus pada kejengkelan akan keberhasilan orang lain, sibuk menjegal tanpa dasar visi ilahiah, dan terus menyalahkan keadaan dan orang lain. Ujung-ujungnya banyak penyakit yang menggerogoti fisiknya. Sungguh golongan yang merugi.
Kita lahir sempurna. Tak ada stempel makmur dan tidak makmur di jidat kita. Yang kemudian membuat seseorang makmur atau tidak makmur, adalah kebesaran tekad untuk mau belajar. Ilmu pengetahuanlah yang kemudian membedakan apakah kita akan makmur atau tidak makmur, kaya atau miskin. Ilmu pengetahuan meninggikan derajat seseoarang. Ilmu pengetahuan menjadi bekal untuk membuat pikiran dan perasaan seseorang menjadi besar atau kerdil. Siapa yang tidak mau belajar, lambat dalam belajar, maka dia akan jauh tertinggal. Bacalah, bacalah.
Andrew Carnegie (kekayaan total 500 juta dolar), penguasa industri baja Amerika, adalah anak imigran miskin dari Skotlandia. Sejak kecil dia harus bekerja menjadi buruh kasar.
Jhon D. Rockefeler (5 Milliar Dolar), penguasa industri minyak Amerika adalah anak tukang obat keliling.
Henry Ford juga waktu mudanya miskin, tetapi dia senang sekali mengotak-atik mesin walau dengan peralatan seadanya.
Bill Gates (Microsoft, 50 Milliar Dolar) memang adalah anak orang kaya, tetapi ia membangun usahanya sendiri dan “kantor” pertamanya adalah sebuah kamar kecil di sebuah motel di Albequerque.
Konosuke Matsushita (Panasonic) waktu kecil hidup dalam kemiskinan dan harus menjadi penjaga toko sejak umur 9 tahun.
Akio Morita (Sony) adalah memang anak orang kaya yang juga membangun usahanya sendiri dari nol. Tempat usaha pertamanya cuma rumah sederhana yang jalan masuknya ditutupi tali jemuran.
Dan masih banyak lagi contoh-contoh orang sukses lain yang semula hidup miskin kemudian menjadi kaya raya, atau memulai usahanya dari nol. Nabi Muhammad Saw. yang memilih hidup sederhana adalah pedagang kaya raya.
Bahkan ratusan tahun yang lalu manusia sudah tahu bagaimana cara untuk sukses.
1. Kalau Anda belajar sedikit lebih banyak, Anda akan unggul. Belajarlah dari yang terbaik.
2. Kalau Anda bekerja lebih semangat dan kreatif, Anda akan unggul. Jadilah yang terbaik.
3. Kalau Anda belajar dan bekerja lebih semangat, Anda pasti sukses. Kunci kesuksesan adalah semangat, bukan uang.
4. Belajarlah bermimpi besar, dan buat rencana kesuksesan Anda, sekarang! Kalau belum berhasil, Refresh/Restart.

Selasa, 03 April 2012

BENEFITS FOR THE SPIRIT AND JOY The Believers

Obtaining Power and StrengthThroughout his life the people trying to find a way to gain mental and physical strength. For the sake of this goal is reached they were using medication and science in hopes of getting the results of various drugs or mental exercises. Nevertheless, they did not manage to get a formula that can make them stay agile, vibrant, and energetic until his death.The only way that can make a person can remain strong and agile mentally and physically is faith. Devotion to God in one's heart makes nimble, alert, and strong all the time. God gave to the believers of this power because of their faith in him and the practice of the Koran, after all the desire and the spirit of the believers in gaining the pleasure of Allah give them unlimited power. Because always remember the fact that this life is short and death as well as the courts are close by, always a source of motivation and their activities. Those concerned with the spirit of faith does not allow for a sense of despair and disappointment and to give fresh energy to do good deeds one by one, day and night.In addition to physical strength, the believers also have a clear awareness and conviction. They can sense quickly the sides of a complex of events, create a solution that light can not be seen by other people, identifying the events in the most comprehensive, and draw conclusions most accurately. Even in times of tiredness too, they have a keen awareness of a spirit that is in them. They execute their duties in a way as precise and as perfect as possible and, with God's will, obtain successful results. In short, they show a steadiness and strength immeasurably in doing what they do and never sluggish. When they do not achieve immediate success, they never feel discouraged and lose their commitment, knowing that the outcome of any charity is always appropriate for people of faith.Getting Help and Support of Allah"And truly God would help those who help (religious)-his. Verily Allah is almighty, All-Mighty." (Q.s. al-Hajj: 40).In this verse Allah has promised His help to those who cling to their religion with enthusiasm. In the Qur'an, Allah gives the example of Thalut and his troops. Some members of the forces that will Thalut Goliath battle with the forces showed keloyoan and acted as if they do not have the strength to fight. Nevertheless, those who have true faith in God and serve Him with enthusiasm showed courage and said:"How many a little can beat a lot of classes with the permission of Allah. And Allah is with those who steadfastly persevere." (Q.s. al-Baqarah: 249).They seek refuge in Allah, then Allah help the pious servants of this with the aid of his forces and win them over Goliath, even though their numbers are few. This incident is recounted in the Qur'an as follows:"And when Thalut out with his army, he said: 'Verily Allah will test you with a river. So who among you drink the water, she is not my followers. And he drank nothing, except menceduk seceduk hand, it is the followers." Then they drink it unless some of them. And when Thalut and the believers with him had crossed the river, the people who had been drinking said: 'There is no ability for us this day against Jalut and his army.' People who believe that they would meet Allah said: 'How many a little can beat a lot of classes with the permission of Allah. And Allah is with those who wait. ' When Goliath and his troops have been seen by them, they pray: 'Our Lord, pour patience upon us, and our establishment kokohkanlah and help us against the infidels.' They (soldiers Thalut) defeated Goliath with the permission of Allah and (in battle) David slew Goliath, and Allah gave him (David) and the wisdom of government, (after the death of Thalut) and taught him what He wills. If God did not reject (malignancy), some people with some others, must have corrupted the earth. But God has a gift (a shed) over the worlds. "(Surat al-Baqarah: 249-51).In addition, the faith that God add many more over the faith of His servants who serve and encourage them to send peace into their hearts when they cling to religion. This makes them a sense of calm did not feel anxious over anything that would befall them. God help the people of faith to energize them, revealed in the Qur'an:"He was down tranquility into the hearts of believers grow in their faith to the side of their faith (which already exists). And belongs to God is the host of heaven and earth, and Allah is Knowing, Wise." (Q.s. al-Fath: 4)."Verily, Allah has been pleased to believers when they swore allegiance to you under the tree, then God knows what is in their hearts and He sent down tranquility upon them and rewarded them with a close victory (time)." (Q.s. al-Fath: 18)."Then God sent down serenity to His Messenger and the believers, and Allah sent down armies which ye see not, and God inflicted disaster to those who disbelieve, and thus retaliation against those who disbelieve." (Q.s. at-Tawbah: 26).We are also told in the Qur'an that when the pagans made a plan to kill the Prophet., God help him to lose the peace:"If you do not help him (Muhammad), Allah has helped him (that) when the disbelievers (idolaters of Mecca) out (of Mecca) he was one of two orang1 when both were in the cave, at the time he said to his companion: 'Do not grieve, for Allah is with us.' Then God sent down serenity to His (Muhammad) and help him with troops you could not see it, and God made the call for those who disbelieve that low. And that's the high word of Allah. Allah is Mighty, Wise. " (Q.s. at-Tawbah: 40).Help of God, as revealed in the Qur'an, is one of the rewards to be received by believers in this world because of their passion. Reward they get in the next, on the one hand, of course, larger.Obtain HeavenGod has given the glad tidings of paradise for those who believe and work righteousness:"And give glad tidings to those who believe and do good, provided that for them Gardens underneath which rivers flow in it. Every time they are given sustenance of fruit in the heavens, they say: 'This is never given to Our first. ' They were given a fruit similar to those in it and there are holy spouses, and they abide therein. " (Q.s. al-Baqarah: 25).God will give these pleasures to them in return for enthusiasm and effort they have shown in this life. Believers to practice this verse:"And ye haste to the forgiveness of your Lord and for Paradise as wide as heaven and earth." (Q.s. Ali Imran: 123).They devote all their efforts to reach heaven, for God said:"And whoever is doing the good deed with readiness of mind, then surely Allah is Grateful, Knowing good." (Q.s. al-Baqarah: 158).God's reply to deeds of virtue who worked sincerely and wholeheartedly, so the believers will be rewarded for all the charities that they did willingly, even if only for atoms. Thus, they will feel the pleasure of their Lord and they will feel pleasure to them:"He said: 'This is a day that are beneficial to the people who correct their truth. For those of heaven under which rivers flow to dwell therein for ever: Allah pleased with them and they were good pleasure of His . That is the greatest fortune. '" (Q.s. al-Mâ'idah: 119).To the right people will say:"My soul is calm. Return to your Lord with a satisfied heart blessed him again. Then go into the congregation of my servants, and enter into my paradise." (Q.s. al-Fajr: 27-30).www.harunyahya.com

Jumat, 24 Februari 2012

Perhatikan


“Dan (juga) pada diri kalian. Apakah kalian tidak memperhatikan?”
Peraslah jeruk, hasilnya pasti sari jeruk. Peraslah mangga, pun hasilnya sari mangga. Tak mungkin apa yang kita peras, hasilnya bukan dari apa yang kita peras. Tak mungkin peras mangga hasilnya sari selain mangga kan?
Apa yang kita alami di dunia ini, dalam kehidupan kita sehari-sehari, baik kesedihan, kebahagiaan, gelisah, ketenangan, kemiskinan, kemakmuran, dan beragam dinamika hidup lainya, adalah berasal dari dalam diri kita, yaitu pikiran yang diikat dengan perasaan. Apapun yang kita hadapi sekarang adalah hasil dari diri kita sendiri.
Jika yang kita alami adalah hal-hal yang membuat kesal dan marah, maka tak perlu menyalahkan diluar dari kita. Ariflah berhikmah.
Hati-hati dengan pikiran kita. Karena apa yang kita pikirkan sangat mungkin menjadi nyata. Akal akan membangun persepsi, meresap ke hati, terakumulasi menjadi sistem kepercayaan diri dan alam akan menyesuaikan kenyataan yang sesuai dengan sistem kepercayaan diri tersebut.
Semua benda seperti lampu, pesawat, mobil, pencapaian-pencapaian tekhnologi oleh para ilmuan dan lain-lain adalah hasil dari pemikiran. Semua berawal dari pikiran. Inilah instrumen dasar yang harus diubah seseorang untuk berubah. Tiada seseorang di dunia ini yang bisa merubah diri kita, selain diri kita sendiri.
“Semua bunga esok hari ada dalam benih hari ini. Semua hasil esok hari ada dalam pikiran hari ini” (Aristoteles). Plato berkata, “Ubah pikiran Anda, niscaya kehidupan Anda berubah”. Budha pun menyatakan hal senada, “apa yang anda pikirkan hari ini, akan terjadi esok hari.”
Pikiran sangat berbahaya. Petinju legendaris Muhammad Ali selalu berkata dalam hati, “Aku petinju hebat. Apapun yang terjadi, aku tetap petinju hebat”. Dalam wawancara di televisi dia ditanya, “mengapa Anda selalu berkata demikian?” Dia menjawab, “Karena kalimat itu memberiku rasa percaya diri, menguatkan keinginanku, dan membuatku konsentrasi pada target yang ingin aku capai. Jika akhirnya gagal, aku akan belajar dari kegagalan, kemudian berlatih lebih baik lagi hingga berhasil.” Lebih lanjut dia berkata, “Pikiran sangat berbahaya. Pikiran bisa menjadi penyebab kegagalan dan bisa pula menjadi pendukung keberhasilan. Pikiran adalah sumber percaya diri.”
Mengenai kesehatan, pikiran punya pengaruh besar. Dalam energy medicine Dr. Herbert Spencer dari Universitas Harvard mengatakan bahwa jiwa dan tubuh saling melengkapi. Dia mengatakan bahwa lebih dari 90 % penyakit tubuh disebabkan oleh jiwa. Inilah yang disebut dengan Psycho-Somatic Disease. Istilah ini berasal dari kata psycho yang berarti jiwa, dan somo yang berarti tubuh. Maksudnya, jiwa (psycho) BERPIKIR memengaruhi tubuh (somo). Beberapa penguatan teori ini ditambahkan oleh penelitian pada 1986 tentang dialog dengan jiwa oleh Fakultas Kedokteran di San Fransisco. Menurut hasil penelitian itu, lebih dari 75 % penyakit tubuh berasal dari dialog dengan jiwa. Itulah yang oleh ahli jiwa disebut “Sandiwara Internal”. Inilah cara orang menggambarkan kehidupan dalam benaknya, termasuk PIKIRAN-PIKIRAN dan susunannya dalam mental. Oya, pernah nonton acara Bengkel Hati bersama Ustadz Danu di salah satu TV Swasta? Banyak yang bisa kita tahu dari acara itu tentang bahaya pikiran negatif bagi kesehatan. Maka dari itu, ubahlah pikiran ke arah positif, agar tubuh tetap sehat. Rasulullah bersabda, “janganlah kalian berpura-pura sakit sehingga benar-benar jatuh sakit.” Hadis ini menegaskan bahwa pikiran bisa menimbulkan penyakit.
Mengeni kemakmuran dan kebahagiaan, tentu berlaku efek serupa. Ubahlah pikiran ke arah kemakmuran dan kebahagiaan, kemudian lihat apa yang terjadi dalam hidupmu. Tanamkan kecintaan pada kebaikan dan yang utama, dekatkanlah diri kita pada Allah, Maha pemilik segala kebaikan. Yakinilah dengan mengingat-Nya, hati senantiasa tenang, kejernihan pikiran tercipta dan prestasi mudah diraih. Cintai Allah, maka pikiran-pikiran negatif bisa kita jinakan. Yakin? Hehe…
Selama ini, kita banyak percaya dengan beragam janji sesama manusia. Kenapa ya, kok kurang yakin dengan janji Sang Maha Pencipta Segalanya? “Hehe,,, it’s ok deh kalau ga yakin. Toh, setiap pribadi bertanggungjawab atas ‘buah’ dirinya sendiri. Tak yakin juga terserah deh. Peace.” Hehe…
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (Al-Ra’du: 11).
Adalah kita telah diberikan kehendak oleh Allah untuk bisa mengubah atau memilih pikiran yang kita sukai. Gunakanlah kehendak itu berlandaskan pengetahuan dan ilmu. “Kemuliaan manusia terletak pada pikirannya.” (Pascal). Hukum Pantulan dalam teori pikiran yang dilontarkan DR. Ibrahim Rey Alfiqy, seorang motivator kelas dunia dalam buku International Best Seller, ‘Terapi Berpikir Positif’ menjelaskan bahwa, “Dunia luar adalah pantulan dunia dalam.” “Manusia tidak mungkin menghasilkan pengetahuan tanpa belajar cara berpikir.” (Confucius).
Ali Bin Abi Thalib berkata, “Barang siapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, niscaya dia memperbaiki hubungannya dengan orang lain. Barang siapa memerhatikan urusan akhiratnya, Allah akan memerhatikan urusan dunianya. Barang siapa menjadi penasehat bagi dirinya sendiri, Allah akan menjadi penjaganya.
Akhirat tak terlihat, maka perhatikanlah. Pikiran tak terlihat, maka perhatikanlah. Ariflah memahami.
Dan (juga) pada diri kalian, apakah kalian tidak memperhatikan? (al-Dzariyat: 21).

Arti sebuah Waktu


Alkisah ada seorang wanita yang hidup di sebuah desa terpencil, dia ingin pergi kerja ke kota agar dia bisa mengoprasi wajahnya. Kemudian dia mengutarakan keinginannya untuk kerja di kota kepada kedua orang tuanya, tapi keinginannya tersebut di tolak oleh kedua orang tuanya. Mendengar kata kedua orang tuanya yang menolak keinginannya dia pun menangis, tapi tak berapa lama kemudian ibunya datang menghampiri dia. Dan tiba-tiba ibunya bilang “Kamu boleh pergi ke kota nak”.
Mendengar perkataan ibunya dia pun tersenyum. Dan pagi harinya dia bersiap-siap untuk pergi ke kota. Di tengah perjalanan yang lama dan melelahkan dia istirahat di sebuah rumah, dan dia pun membayangkan, ” andai ku bisa membangun rumah mewah dan dapat mengoprasi wajah ku yang biasa menjadi luar biasa ini.” Tiba-tiba di tengah-tengah lamunannya datang seorang nenek tua menghampirinya, dan bertanya “kenapa nak kamu tersenyum sendiri?”
“Saya sedang membayangkan andaikan saja ku bisa sukses di kota dan dapat mengoprasi wajahku ini”, kata dia. Dan nenek itu mengeluarkan jam kecil dari kantongnya, kemudian nenek itu berkata “Kamu tinggal putar jam itu sesuai dengan putaran jarum jam, bila kamu ingin segera meraih cita-citamu”.
“Baik nek”, kata wanita tadi.
Kemudian tak berapa lama dia memutar jam tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan nenek tadi. Dan tiba-tiba dia bisa bekerja di sebuah perusahaan ternama di Jakarta. Tapi dia tak puas dengan lamanya waktu yang di perlukan agar bisa mengoprasi wajahnya.
Kemudian dia kembali memutar jam tersebut, dan wajahnya pun menjadi cantik. Lagi-lagi dia kurang puas dengan wajahnya, dan kembali dia memutar jam kecil pemberian nenek-nenek yang pernah dia temui sekali lagi. Tapi setelah memutar jamnya dia mendapati wajahnya yang semula cantik jelita menjadi tua dan keriput. Dan dia menyesal dengan keadaan dia sekarang. Kemudian dia kembali menemui nenek-nenek yang memberi dia jam di tempat di mana dia bertemu. Tapi dia tak melihat nenek tersebut karena nenek itu telah lama meninggal. Dia pun hanya bisa menyesal dan menangisi nasibnya.
Teman-teman ku apa pesan yang dapat kita ambil dari kejadian wanita tadi?
  1. Jadilah diri sendiri karena hanya dengan menjadi diri sendiri kita akan menjadi pribadi yang hidup dengan penuh rasa bahagia, damai, dan mulia.
  2. Raihlah cita-cita dengan penuh pengorbanan, kegigihan, dan kedisiplinan waktu untuk belajar.
  3. Kesuksesan bukan datang dari nasib dan keberuntungan, tapi datang dari kerja keras, ketidak putus asaan dan keyakinan.

Jumat, 16 Desember 2011

KELALAIAN MEREKA YANG IMANNYA TIDAK SUNGGUH-SUNGGUH

Pada awal tadi telah dinyatakan bahwa iman dari setiap orang yang berkata, "Aku beriman" tidaklah sama. Dalam bagian ini akan dibahas mengenai kelalaian dari orang-orang yang tidak beriman dengan benar. Kurangnya komitmen yang sejati adalah suatu hal yang menyebabkan lemahnya iman. Sebelum melanjutkan topik ini, alasan-alasan mengenai adanya perbedaan ini dapat dijelaskan dengan melihat bagaimana al-Qur'an mengidentifikasi orang-orang semacam ini, pandangan mereka mengenai agama, dan tujuan hidup mereka.
Mereka yang Imannya Tidak Sungguh-sungguh
Di dalam al-Qur'an orang-orang semacam ini juga disebut sebagai "mereka yang di dalam hatinya berpenyakit", "munafik", "mereka yang berbalik ke belakang" atau "mereka yang tinggal di belakang". Dapat dicermati bahwa mereka secara utuh bukanlah termasuk golongan orang-orang beriman maupun orang-orang jahiliah, sebagaimana dinyatakan di dalam ayat-ayat berikut ini:
"Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka." (Q.s. al-Mujadalah: 14).
"Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir)." (Q.s. an-Nisa': 143).
Meskipun demikian, perlu diperhatikan bahwa orang-orang semacam ini umumnya tinggal di tengah-tengah kaum muslimin. Penampilan, gaya hidup, dan sebagian dari perilaku mereka menyerupai orang-orang beriman. Namun, sesungguhnya, orang-orang ini tidaklah benar-benar seperti mereka karena karakteristik yang paling istimewa dari orang-orang beriman adalah keikhlasan mereka dalam beribadah kepada Allah, sementara orang-orang ini tidak memiliki keimanan yang kuat di dalam hati mereka. Sekalipun mereka menyatakan keimanan, mereka bukanlah orang-orang beriman yang sesungguhnya. Mengenai hal ini Allah berfirman sebagai berikut:
"Di antara manusia ada yang mengatakan: 'Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar." (Q.s. al-Baqarah: 8-9).
Apa yang mereka nyatakan sangat berbeda dengan apa yang disembunyikan di dalam hati mereka, ini dikarenakan "penyakit" yang ada di dalam hati mereka. Fakta ini juga dinyatakan di dalam al-Qur'an:
"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta." (Q.s. al-Baqarah: 10).
Di sini maksudnya bukanlah penyakit secara fisik, namun yang sifatnya secara ruhani. Di dalam hati orang yang ada penyakitnya seperti ini maka ia tidak dapat memahami agama secara benar dan mengamalkannya di dalam kehidupan. Sekalipun ia menyaksikan tanda-tanda keberadaan Allah secara terang benderang, ia tidak dapat menundukkan hatinya kepada-Nya, dan tidak dapat mencermati batasan-batasan-Nya. Ia tidak mampu hidup dengan agama Allah secara lengkap karena meskipun nuraninya telah membimbingnya kepada kebenaran, dirinya terlalu lemah untuk mengamalkan apa yang dinyatakan oleh lidahnya. Dibandingkan dengan kenikmatan-kenikmatan yang ada di surga, ia menganggap bahwa keuntungan-keuntungan duniawi ini lebih mudah diperoleh. Dengan demikian, maka ia pun begitu terikat dengan dunia ini dan tidak dapat menghargai nilai akhirat dengan selayaknya.
Keberadaan Mereka di Tengah-tengah Orang-orang Beriman
Tentu saja merupakan suatu hal yang menarik untuk diperhatikan, bahwa mereka yang di dalam hatinya ada penyakit lebih suka tinggal bersama-sama dengan orang-orang beriman, meskipun mereka tidak memiliki cita-cita yang sama. Salah satu alasan kenapa mereka lebih senang demikian adalah karena orang-orang semacam ini ingin mendapatkan untung dari agama dan kedamaian serta keamanan lingkungan dari orang-orang beriman. Mereka merasa lebih nyaman berada di tengah-tengah orang-orang beriman yang memperlihatkan akhlak mulia, dan lebih senang tinggal di tengah-tengah masyarakat seperti ini yang tidak dapat dijumpainya pada masyarakat jahiliah. Sementara keimanan di hati mereka sedikit, mereka tidaklah kafir seluruhnya, meskipun demikian mereka tidak dapat berintegrasi seutuhnya ke dalam masyarakat jahiliah ataupun ke dalam masyarakat Islam. Keraguan di dalam hati mereka menimbulkan dilema ini. Mereka mendapati bahwa kehidupan di dunia ini lebih menarik namun mereka juga ingin mendapatkan karunia-karunia yang dijanjikan Allah kepada orang-orang beriman di dunia ini dan di akhirat nanti. Meskipun mereka tidak memiliki keimanan yang sungguh-sungguh, punya pikiran-pikiran semacam, "Apakah ini benar?" dan "Bagaimana kalau janji-janji itu benar-benar nyata?" menyebabkan mereka berharap bahwa selain mendapatkan kesenangan-kesenangan duniawi, mereka juga dapat memetik keuntungan dari rahmat-rahmat dan karunia-karunia yang dicapai oleh orang-orang beriman.
Mereka mengharapkan agar orang-orang beriman dengan tulus akan melaksanakan tugas-tugas yang diperintahkan oleh agama, sementara mereka sendiri dapat mengambil keuntungan duniawi darinya. Namun demikian, bila ada kesulitan dan masalah mereka tidak mau bergabung bersama-sama dengan orang-orang beriman. Di dalam al-Qur'an perilaku orang-orang semacam itu pada masa Nabi Muhammad saw. digambarkan sebagai berikut:
"Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata: 'Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka. Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia: 'Andaikan, kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula)'." (Q.s. an-Nisa': 72-3).
"(yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: 'Bukankah kami (turut berperang) bersama kamu?' Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: 'Bukankah kami turut memenangkanmu dan membela kamu dari orang-orang mukmin?' Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari Kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman." (Q.s. an-Nisa': 141).
Orang-orang ini ingin memetik keuntungan dari manfaat yang diperoleh oleh orang-orang beriman, maka kadang kala mereka berupaya menarik perhatian dan meyakinkan orang-orang beriman mengenai komitmen mereka atas agama. Kendati demikian, karena orang-orang beriman telah menyaksikan sendiri keacuhan dan keloyoan yang telah tampak secara terang-terangan, maka mereka tidak berhasil untuk mempengaruhinya.
Orang-orang munafik memiliki pikiran-pikiran rusak, sehingga mereka berupaya untuk melakukan tipu daya sekalipun diantara mereka sendiri, dan berpikir bahwa mereka dapat ikut menikmati ganjaran-ganjaran yang diterima oleh orang-orang beriman pada kehidupan yang berikutnya. Di dalam al-Qur'an posisi mereka yang sesungguhnya digambarkan:
"Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang beriman: 'Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.' Dikatakan (kepada mereka): 'Kembalilah kamu ke belakang1 dan carilah sendiri cahaya (untukmu).' Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: 'Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?" Mereka menjawab: 'Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu. Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu. Dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali." (Q.s. al-Hadid: 12-5).
Orang-orang semacam ini hendaknya menyadari bahwa jika mereka tidak memiliki keimanan yang tulus di dalam hati mereka, kehidupan mereka di tengah-tengah orang-orang beriman tidak ada gunanya di hadapan Allah. Oleh karena Allah telah menganugerahkan hati nurani, kebijaksanaan, dan kemampuan untuk menimbang kepada manusia, Ia akan menanyai setiap orang secara individu dan memberinya ganjaran atau menghukumnya sesuai dengan itu. Amal-amal yang dikerjakan oleh seseorang secara ikhlas, untuk memperoleh keridhaan-Nya, akan mendapatkan pahala dari-Nya. Hanya menyatakan ketaatan saja tidaklah cukup, karena tingkah laku seseorang mesti cocok dengan apa yang dikatakannya. Dengan demikian, orang-orang yang lalai menipu diri mereka sendiri dengan berpikir bahwa hanya dengan tinggal di tengah-tengah orang-orang beriman akan menolong mereka pada Hari Pengadilan nanti. Akibat yang akan ditanggung di akhirat kelak oleh orang beramal demi kepentingan hawa nafsunya sendiri daripada untuk mencari keridhaan Allah, dinyatakan dalam sebuah Hadis Nabi Muhammad saw.: "Barangsiapa yang ingin didengar (amal kebajikannya) - Allah akan membuat (niatnya yang sebenarnya) didengar; dan barangsiapa memperlihatkan (amal kebajikannya) - Allah akan memperlihatkannya." (H.r. Bukhari Muslim).
Kelalaian Mereka yang di dalam Hatinya Ada Penyakit
"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." (Q.s. al-Hajj: 11).
Ayat ini mengungkapkan tipe "semangat" yang ditunjukkan oleh orang-orang yang tidak berpegang teguh kepada agama. Mereka tampaknya begitu bersemangat selama kepentingan pribadinya tidak terpengaruh. Meskipun demikian, bila terjadi konflik kepentingan, maka semangat dan kegembiraan mereka pun akan lenyap. Karena mereka tidak yakin atas kepastian, situasi semacam ini akan membuat mereka meninjau kembali kewajiban-kewajiban yang dituntunkan dalam ajaran agama Islam. Mereka lupa bahwa Allah menciptakan dunia ini sebagai ujian, bahwa Allah akan menguji manusia melalui berbagai macam bentuk, baik yang tampaknya baik ataupun buruk, dan bahwa hanya mereka yang istiqamah sajalah yang akan mendapatkan pahala. Penyakit yang ada di dalam hati mereka membuat mereka merasa ragu atas adanya pertolongan Allah. Daripada mempercayakan nasib mereka kepada Allah, mereka malah jatuh ke lembah keputusasaan dan mulai berpikir yang jelek-jelek terhadap Allah. Dengan demikian, maka penyakit yang tersembunyi di dalam hati mereka pun menjadi tampak ke permukaan. Di dalam al-Qur'an, Allah menggambarkan bagaimana mereka kehilangan semangat secara tiba-tiba ketika menghadapi cobaan dan mulai meragukan janji Allah:
"Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: 'Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya'." (Q.s. al-Ahzab: 12).
Sikap ini tentu saja karena adanya kekurangan dalam iman mereka. Orang-orang seperti ini tidak dapat memahami bahwa apa saja yang mereka hadapi sesungguhnya memang dibuat untuk menguji mereka. Mereka yang hatinya berpenyakit berbeda dengan orang-orang beriman yang dengan sikap tulus ketika sedang menghadapi ujian-ujian semacam itu. Orang-orang beriman menjadi semakin bersemangat dan merasa damai dengan menggantungkan kepercayaan mereka kepada Allah, apa pun yang akan menimpa mereka, dan mengetahui bahwa pertolongan Allah senantiasa dekat.
Mereka yang Tinggal di Belakang
Orang-orang yang memperlihatkan kecenderungan munafik mempunyai pemikiran yang benar-benar berbeda dengan orang-orang beriman serta sangat jauh dari al-Qur'an. Karena cacatnya keyakinan mereka, pemikiran tidak didasarkan pada bagaimana caranya menggapai keridhaan Allah namun semata-mata dalam rangka untuk memuaskan hawa nafsu mereka sendiri dan mengambil keuntungan pribadi. Karena alasan inilah mereka menganggap bahwa menyibukkan diri dalam amal-amal Islami merupakan suatu hal yang sia-sia. Karena keimanan mereka kepada akhirat agak samar-samar, mereka berpendapat bahwa amal-amal yang dilakukan untuk akhirat tidak membawa keuntungan yang memadai sebagai ganjaran dari semua kerja dan keletihan mereka. Dengan demikian, mereka punya pikiran bahwa lebih menguntungkan untuk mencurahkan waktu mereka guna memperoleh keuntungan-keuntungan duniawi yang segera daripada memberikan manfaat-manfaat kepada Islam. Karena takut tertipu, mereka lebih suka tertahan di belakang mengambil sikap "moderat", sebagaimana dinyatakan di dalam al-Qur'an:
"Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran)." (Q.s. an-Nisa': 72).
Pendek kata, mereka tidak bersemangat terhadap apa saja yang tidak memberikan keuntungan-keuntungan duniawi yang nyata kepada mereka.
Ketika dihadapkan pada situasi yang membutuhkan usaha-usaha demi kepentingan mereka yang membutuhkan, mereka yang tertindas atau orang-orang beriman, mereka mundur ke belakang. Senantiasa mengajukan uzur, mereka berupaya untuk membuatnya sangat sulit. Karena mereka tidak hidup dengan agama, mereka kekurangan motivasi dan energi untuk memecahkan masalah atau menyelesaikan suatu pekerjaan yang baik. Mereka memperlihatkan sikap enggan, baik dengan cara menarik diri secara tiba-tiba dan meninggalkan orang-orang beriman dalam kesukaran atau dengan bekerja secara apatis.
Meskipun demikian, apabila orang yang lalai ini diberi tawaran untuk menduduki suatu posisi yang bergengsi di sebuah perusahaan dengan gaji yang tinggi dan selanjutnya ia juga dijanjikan bahwa nantinya juga akan menjadi pemegang saham, maka ia pun memperlihatkan kinerja yang luar biasa, sikapnya akan sangat berbeda. Tidak diragukan lagi, menimbang keuntungan-keuntungan dari posisi itu, ia akan menunjukkan semangat yang luar biasa dalam kerjanya dan dengan cepat mampu memberikan penyelesaian-penyelesaian masalah yang memuaskan. Ada perbedaan yang mencolok antara keengganan orang-orang ini ketika diharapkan untuk bekerja demi kepentingan Islam, dan semangat yang mereka tunjukkan ketika kepentingan mereka dipertaruhkan. Karena mereka lebih suka pada manfaat-manfaat duniawi dibandingkan keridhaan Allah inilah yang menyebabkan sikap mereka berubah-ubah demikian itu.
Tinggal di Belakang Tidak Menguntungkan Namun Suatu Kebodohan
Tentu saja, keengganan dari mereka yang di dalam hatinya ada penyakit ini mengungkapkan betapa besarnya kebohongan di dalam kehidupan mereka. Tidak dapat berjuang untuk mencapai keridhaan Allah adalah suatu kerugian, karena usaha apa pun yang dicurahkan di jalan Allah akan mendatangkan keuntungan terbesar yang mungkin dicapai. Setiap amal yang dikerjakan oleh seseorang dengan ikhlas akan mendatangkan keridhaan Allah. Allah menjanjikan memberi yang terbaik kepada hamba-hamba-Nya yang diridhai-Nya, baik ketika masih berada di dunia ini maupun di akhirat kelak. Seorang mukmin yang saleh tidak bersemangat karena ia mengharap balasan yang segera di dunia ini. Mengetahui bahwa Allah ridha dengan amal yang dilakukannya saja sudah cukup baginya. Allah, pemilik keadilan, cinta, kasih sayang dan keagungan yang abadi, senantiasa siap dalam memberikan penghargaan atas amal-amal yang dikerjakan di Jalan-Nya, dan menyatakan bahwa amal apa saja, sekalipun hanya sebesar biji sawi atau atom, tidak akan disia-siakan:
"Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarrah, dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar." (Q.s. an-Nisa': 40).
"Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa." (Q.s. an-Nahl: 30).
"(Luqman) berkata: 'Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (Q.s. Luqman: 16).
Sungguh suatu hal yang sangat tidak bijaksana bersikap enggan dalam menjalankan amal-amal saleh karena semakin serius seseorang beramal, semakin besar ganjaran yang diterimanya baik di dunia ini dan di akhirat nanti. Demikian pula, semakin ia lalai, semakin rugi pulalah dirinya.
www.harunyahya.com

Cari Blog Ini